Karanganyar (Bimas Hindu) — Mendorong pemahaman keagamaan yang mendalam dan tidak sekadar menjalankan ritual, umat Hindu pengempon Pura Tunggal Ika membedah makna filosofis sarana Banten Pejati dan Jenang Manca Warna di Desa Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Rabu (2/9/2026).
Kajian filosofi sarana upacara ini disampaikan oleh Jro Mangku Priyanto dan Eyang Podho Winarno dalam rangkaian Pasantihan rutin umat kelompok Milir-Ngetrep-Ndederan.
Jro Mangku Priyanto menjelaskan bahwa Banten Pejati memiliki kedudukan penting sebagai simbol kesungguhan pikiran dan permohonan dalam setiap pelaksanaan Yadnya.
"Banten Pejati bukan sekadar sarana fisik yang dihaturkan, melainkan memuat simbol teologis yang menuntun umat untuk meneguhkan kesadaran diri dan menjalankan kehidupan berdasarkan ajaran Dharma," terang Jro Mangku Priyanto (2/9/2026).
Sementara itu, Eyang Podho Winarno menambahkan pemaparan mengenai Jenang Manca Warna yang melambangkan lima arah mata angin (Panca Dewata) serta simbol keharmonisan dan keseimbangan alam semesta.
"Dengan memahami makna di balik simbol busana dan warna sarana upacara, pelaksanaan Yadnya menjadi lebih dihayati. Pengetahuan ini penting diwariskan agar generasi muda tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi paham esensi tradisinya," ungkap Eyang Podho.
Melalui tradisi Pasantihan dan bedah filosofi sarana ibadah ini, Kemenag Karanganyar mendukung pemajuan literasi keagamaan agar pemahaman ajaran Hindu di tingkat tapak semakin kokoh dan substantif.
Kontributor: Sri Wagini, S. Ag