Pendidikan Hindu

Ruang Sakral Jadi Benteng Pelestarian Lingkungan, IAHN Tampung Penyang Bangun Kesadaran Kosmik Generasi Muda

Dr. I Made Puspe menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-25 IAHN Tampung Penyang Palangka Raya mengangkat tema kesadaran kosmik dan pelestarian lingkungan berbasis ruang sakral.

Palangka Raya (Bimas Hindu) Ruang sakral tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi benteng pelestarian lingkungan. Semakin masyarakat memandang suatu kawasan sebagai ruang suci, semakin besar peluang kawasan tersebut tetap lestari. Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam orasi ilmiah yang disampaikan Dr. I Made Puspe, S.Ag., M.Pd.H., Dosen Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, pada Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-25 IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, Senin (27/7/2026).

Mengusung tema "Membangun Kesadaran Kosmik Menuju IAHN Tampung Penyang Palangka Raya yang Berkelanjutan," orasi ilmiah tersebut mengangkat topik Ekoteologi dan Pariwisata Religi dalam Rekonstruksi Etika Lingkungan Berbasis Ruang Sakral untuk Membangun Generasi Peduli Lingkungan. Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan krisis lingkungan yang menuntut pendekatan baru, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui nilai-nilai spiritual.

Dalam paparannya, Dr. I Made Puspe menjelaskan bahwa ruang-ruang sakral memiliki kekuatan membentuk kesadaran ekologis masyarakat. Ketika sebuah kawasan dipandang sebagai tempat yang suci, masyarakat akan terdorong untuk menghormati, menjaga, dan melestarikannya. Kesadaran spiritual tersebut pada akhirnya menjadi fondasi konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

"Kesucian tempat menumbuhkan rasa hormat, rasa hormat menumbuhkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan upaya pelestarian. Karena itu, menjaga alam sejatinya merupakan bagian dari spiritualitas dan wujud syukur kepada Tuhan," ujar Dr. I Made Puspe.

Ia mencontohkan bagaimana berbagai destinasi wisata religi mampu mempertahankan kelestarian alamnya karena masyarakat memandang kawasan tersebut sebagai ruang suci yang tidak boleh dirusak. Menurutnya, pendekatan ini menjadi model penting dalam membangun etika lingkungan yang berpijak pada nilai-nilai agama dan budaya lokal.

Lebih jauh, Dr. I Made Puspe menegaskan bahwa kesadaran kosmik yang diusung dalam Dies Natalis ke-25 IAHN Tampung Penyang tidak cukup dipahami sebagai konsep filosofis semata. Kesadaran tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, dimulai dari perubahan perilaku sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan hingga menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian alam.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut kepada mahasiswa. Melalui pengalaman spiritual yang dipadukan dengan praktik konservasi lingkungan, generasi muda dapat dibentuk menjadi agen perubahan yang memiliki kepedulian ekologis sekaligus berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.

"Melalui pengalaman spiritual dan konservasi, generasi muda dapat dibentuk menjadi agen perubahan yang peduli terhadap lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan," ungkapnya.

Ia menambahkan, pembangunan destinasi wisata religi tidak semata-mata bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga membangun tanggung jawab kolektif dalam menjaga kelestarian alam bagi generasi mendatang. Menurutnya, alam merupakan titipan yang harus diwariskan dalam kondisi tetap lestari.

Orasi ilmiah tersebut sekaligus mempertegas komitmen IAHN Tampung Penyang Palangka Raya untuk menghadirkan pendidikan tinggi keagamaan Hindu yang tidak hanya unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu melahirkan lulusan yang memiliki kesadaran kosmik, menghargai harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, serta siap menjadi pelopor pembangunan yang berkelanjutan.


Berita Daerah LAINNYA