Lampung Tengah, Lampung (Bimas Hindu) Pembinaan calon pengantin Hindu tidak harus menunggu layanan terpusat di tingkat kabupaten. Di Lampung Tengah, Penyuluh Agama Hindu memilih mendatangi langsung kediaman calon pengantin sebagai upaya memastikan pasangan tetap memperoleh bekal keagamaan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Pendekatan door to door tersebut dilakukan di Kampung Banjar Ratu, Kecamatan Way Pengubuan, Kamis (3/9/2026), kepada calon pengantin Ketut Sukante dan Ketut Sintia yang dijadwalkan melangsungkan pernikahan pada 14 September 2026.
Pembinaan difokuskan pada kesiapan pasangan dalam menjalani kehidupan berumah tangga menurut ajaran Hindu. Materi tidak hanya menyangkut kesiapan pribadi, tetapi juga kesiapan spiritual, mental, sosial, serta pemahaman mengenai tanggung jawab suami dan istri.
Penyuluh Agama Hindu I Gusti Ngurah Adi Narendra Yoga menegaskan bahwa perkawinan Hindu tidak cukup dipahami sebagai penyatuan dua individu, tetapi juga membawa tanggung jawab moral dan spiritual.
“Pernikahan dalam Hindu bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral dan spiritual. Karena itu, calon pengantin perlu memiliki kesiapan lahir dan batin, memahami kewajiban masing-masing, serta mampu membangun keluarga yang dilandasi dharma,” ujarnya.
Model pembinaan langsung ke rumah juga menjadi pilihan ketika layanan belum dapat dilaksanakan secara terpusat. Penyuluh Agama Hindu I Ketut Ginada mengatakan keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pelayanan kepada umat.
“Kami berupaya hadir sedekat mungkin dengan umat. Ketika pembinaan belum dapat dilaksanakan secara terpusat di kabupaten, kami tetap melaksanakan pembinaan di wilayah masing-masing calon pengantin. Bagi kami, keterbatasan bukan menjadi alasan untuk berhenti memberikan pelayanan dan pembinaan,” ungkap I Ketut Ginada.
Pendekatan ini memang membutuhkan waktu, tenaga, dan koordinasi lebih besar. Penyuluh harus menyesuaikan jadwal dengan calon pengantin dan keluarga, termasuk menempuh jarak yang tidak selalu dekat.
“Pembinaan door to door memang membutuhkan waktu, tenaga, dan koordinasi yang lebih besar. Tidak jarang kami harus menyesuaikan jadwal dengan kesibukan calon pengantin dan keluarga serta menempuh jarak yang cukup jauh. Namun, semangat pengabdian kepada umat menjadi motivasi bagi kami untuk tetap hadir dan memberikan pembinaan sebaik mungkin,” tutur Penyuluh Agama Hindu Darwiyati.
Pembinaan calon pengantin secara langsung di wilayah masing-masing menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan dapat disesuaikan dengan kondisi umat. Tujuannya tetap sama, yakni memastikan pasangan memasuki jenjang perkawinan dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hak, kewajiban, tanggung jawab, dan tantangan kehidupan keluarga.
Melalui pola tersebut, Penyuluh Agama Hindu di Lampung Tengah berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dan responsif. Keterbatasan jarak maupun belum tersedianya pembinaan terpusat tidak menjadi penghalang untuk memastikan calon pengantin tetap mendapatkan pendampingan sebelum membangun kehidupan keluarga berlandaskan Dharma.