Tak Sekadar Hafal Doa, Anak Pasraman Karangasem Dibekali Keterampilan Membuat Ketupat Sari

Anak-anak Pasraman Taman Giri Yowana Sucita mengikuti pembinaan keagamaan yang memadukan pemahaman doa sehari-hari dengan keterampilan tradisi Hindu.

Karangasem (Bimas Hindu) Pembelajaran agama di pasraman tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan tradisi Hindu kepada generasi muda. Pendekatan tersebut dilakukan Kementerian Agama Kabupaten Karangasem melalui pembinaan di Pasraman Taman Giri Yowana Sucita, Desa Adat Tista, Rabu (19/8/2026).

Melalui Penyuluh Agama Hindu dan Penata Layanan Operasional (PLO) Kecamatan Abang, anak-anak pasraman dibimbing memahami doa sehari-hari sekaligus mempraktikkan pembuatan ketupat sari.

Penyuluh Agama Hindu, I Putu Ananta Wijaya, mengatakan pembelajaran doa sejak dini penting untuk membangun kebiasaan spiritual sekaligus memperkuat sradha dan bhakti generasi muda Hindu.

“Doa sehari-hari adalah fondasi spiritual yang harus ditanamkan sejak dini. Melalui pasraman ini, kita berharap generasi muda Hindu tidak hanya sekadar hafal teksnya, tetapi juga memahami makna di balik setiap doa untuk memperkuat sradha dan bhakti mereka dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar Ananta.

Dalam pembinaan tersebut, anak-anak diajak memahami doa bukan sebatas teks yang diucapkan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat menumbuhkan rasa syukur, ketulusan, dan sikap positif.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat sari. Kegiatan ini menjadi sarana mengenalkan keterampilan yang berkaitan dengan tradisi dan kehidupan keagamaan Hindu Bali secara langsung kepada generasi muda.

PLO Kecamatan Abang, Yuti Utari, menilai keterampilan tersebut penting diwariskan agar generasi muda tidak tercerabut dari tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

“Selain penguatan mental spiritual, keterampilan membuat ketupat sari menjadi bagian penting dari pelestarian tradisi leluhur kita. Kami ingin anak-anak muda tetap mencintai budayanya sekaligus memiliki keterampilan praktis yang sangat berguna untuk menunjang kegiatan keagamaan ke depannya,” kata Yuti.

Pembinaan yang memadukan pemahaman keagamaan dan praktik tradisi tersebut diharapkan semakin memperkuat fungsi pasraman sebagai ruang pembentukan generasi Hindu yang berkarakter, berbudaya, terampil, serta memiliki sradha dan bhakti yang kuat.

Kontributor : Finxi


Berita Daerah LAINNYA