Tangkal Fenomena FOMO pada Generasi Muda, Metode Diskusi NORMA Kenalkan Konsep Wiweka di Pesisir Barat

NORMA (Nongkrong Membahas Dharma)

Pesisir Barat (Bimas Hindu) — Mengemas pembinaan karakter keagamaan melalui pendekatan yang adaptif dengan dinamika remaja modern, terobosan diskusi santai bertajuk NORMA (Nongkrong Membahas Dharma) digelar bersama 43 anggota Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) di Pekon Marang, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Sabtu (6/9/2026).

Kegiatan pembinaan yang diselenggarakan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pesisir Barat ini menjadi ruang diskusi interaktif untuk membedah berbagai persoalan khas pemuda masa kini, seperti fenomena FOMO (Fear of Missing Out), pencarian validasi sosial, tekanan pergaulan, hingga pengaruh tren media sosial.

Dalam diskusi tersebut, fenomena krusial remaja dikorelasikan langsung dengan konsepsi ajaran Wiweka yakni kemampuan rasional dan spiritual untuk membedakan serta mempertimbangkan hal yang baik dan buruk sebelum mengambil tindakan.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Pesisir Barat, I Gede Yogi Fernando, menjelaskan bahwa metode NORMA dirancang agar pesan-pesan moral ajaran Hindu dapat terinternalisasi secara alami tanpa terkesan menggurui.

“Kami ingin membangun ruang pembinaan yang tidak terasa kaku dan formal. Pemuda diajak nongkrong dan berdiskusi, tetapi pembahasannya tetap bermuara pada Dharma. Persoalan seperti FOMO, validasi sosial, hingga pengaruh tren media sosial sangat dekat dengan kehidupan mereka. Karena itu, penting bagi pemuda memiliki kemampuan Wiweka agar mampu menentukan sikap secara bijaksana,” ujar I Gede Yogi Fernando.

Ia menambahkan, keberanian untuk berkata tidak terhadap pengaruh lingkungan yang merusak merupakan salah satu wujud nyata dari pengamalan nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Apresiasi disampaikan oleh Ketua Komisariat PERADAH Pekon Marang, Dirta, yang menilai konsep diskusi terbuka ini sangat efektif dalam membuka pola pikir pemuda Hindu di daerahnya.

“Kegiatan NORMA sangat positif karena suasananya santai, tetapi pembahasannya tetap berbobot. Kami bisa berdiskusi tentang persoalan yang kami hadapi sebagai anak muda, lalu melihatnya dari sudut pandang Dharma. Kami tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga bisa menyampaikan pendapat secara bebas,” tutur Dirta.

Melalui pengembangan model pembinaan keagamaan yang inklusif ini, Kementerian Agama Kabupaten Pesisir Barat terus berkomitmen mencetak generasi muda Hindu yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan mental, dan keteguhan karakter berlandaskan ajaran Dharma.

 

Kontributor: Wayan Suryadi Desta


Berita Daerah LAINNYA