Generasi Muda Diajak Meneladani Ketangguhan Leluhur dalam Refleksi Seabad Relokasi Desa Batur

Seabad Relokasi Desa Batur mengajarkan ketangguhan, persatuan, dan pelestarian nilai Dharma sebagai bekal generasi muda menyongsong masa depan.

Bangli (Bimas Hindu) - Seratus tahun setelah relokasi akibat erupsi Gunung Batur pada 1926, masyarakat Batur kembali merefleksikan perjalanan sejarah yang membentuk ketangguhan sosial, budaya, dan spiritual. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh tempat, tetapi juga oleh nilai, keyakinan, dan kebersamaan masyarakat yang menjaganya.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija saat menjadi narasumber utama dalam kegiatan Refleksi 100 Tahun Relokasi Desa Batur (1926–2026) di Pramana Zahill, Batur, Kintamani, Bali, Minggu (02/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai unsur, di antaranya perwakilan mahasiswa Universitas Udayana, Universitas Terbuka, Universitas Hindu Negeri, siswa SMA Negeri 1 Kintamani, Bendesa Adat, Kelihan Tempek Pengayah Batur, organisasi keagamaan Hindu seperti Puskor Hindunesia, KMHDI, Peradah, PC FKPPI, Yayasan Pendidikan Hindu, serta masyarakat umum.

Forum refleksi ini menjadi ruang dialog lintas generasi untuk memahami kembali nilai sejarah relokasi Desa Batur sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya, adat, dan spiritualitas masyarakat Batur di tengah perkembangan zaman.

Dalam paparannya, Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa relokasi Desa Batur setelah erupsi Gunung Batur tahun 1926 bukan semata-mata perpindahan tempat tinggal akibat bencana alam, melainkan sebuah perjalanan transformasi masyarakat dalam mempertahankan identitas dan membangun kembali kehidupan sosial keagamaan.

“Peristiwa relokasi Desa Batur adalah bukti bahwa kekuatan sebuah peradaban tidak hanya terletak pada ruang geografis, tetapi pada nilai-nilai yang diwariskan dan dijaga oleh masyarakatnya. Keteguhan dalam mempertahankan adat, agama, dan budaya menjadi modal utama masyarakat Batur untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan sejarahnya,” ujar Prof. I Nengah Duija.

Ia menjelaskan, erupsi Gunung Batur pada Agustus 1926 menghancurkan kawasan Desa Batur lama yang berada di kaki gunung. Akibat peristiwa tersebut, masyarakat harus berpindah ke kawasan baru di sekitar kaldera. Namun, perpindahan itu tidak memutus hubungan masyarakat Batur dengan akar sejarah dan kehidupan spiritualnya.

Salah satu hal penting dalam perjalanan tersebut, kata Prof. I Nengah Duija, adalah upaya masyarakat menyelamatkan pratima suci sebagai simbol keberlanjutan nilai keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran agama menjadi kekuatan batin yang membantu masyarakat menghadapi masa sulit sekaligus membangun kembali kehidupan pascabencana.

Perjalanan masyarakat Batur pascarelokasi juga melahirkan dua pusat penting dalam kehidupan spiritual, yaitu Pura Jati yang menjadi simbol asal-usul dan memori kolektif masyarakat, serta Pura Ulun Danu Batur yang berkembang sebagai pusat spiritual baru.

Menurutnya, keberadaan kedua pura tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat Hindu dalam menjaga kesinambungan tradisi sekaligus beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Selain nilai spiritual, Dirjen Bimas Hindu juga menyoroti hubungan erat antara masyarakat Batur dan Desa Bayung Gede yang menjadi bagian penting dari sejarah solidaritas masyarakat Bali. Saat masyarakat Batur mengalami masa pengungsian, warga Bayung Gede turut menerima dan membantu menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat beserta pratima sucinya.

“Hubungan Batur dan Bayung Gede menjadi contoh bahwa rasa persaudaraan, kepedulian, dan semangat gotong royong merupakan kekuatan besar dalam menghadapi tantangan kehidupan. Nilai tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. I Nengah Duija menyampaikan bahwa kawasan Batur memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai pusat kehidupan keagamaan Hindu, tetapi juga sebagai kawasan ekologis yang memiliki peran penting bagi masyarakat Bali.

Gunung Batur dan Danau Batur, menurutnya, merupakan bagian dari keseimbangan kosmologi Hindu yang mencerminkan nilai Tri Hita Karana, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Danau Batur juga memiliki peran penting sebagai sumber kehidupan masyarakat melalui sistem pertanian tradisional Bali.

Memasuki satu abad perjalanan relokasi Desa Batur, Prof. I Nengah Duija mengingatkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan modernisasi, perkembangan pariwisata, dan pembangunan tanpa kehilangan jati diri budaya.

“Generasi muda Hindu harus menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran untuk membangun masa depan. Kemajuan tidak boleh memutus akar budaya dan spiritualitas. Pelestarian adat, agama, lingkungan, dan nilai Dharma harus berjalan bersama dengan pembangunan,” tegasnya.

Melalui kegiatan Refleksi 100 Tahun Relokasi Desa Batur, diharapkan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat Batur dapat terus dipahami serta menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan yang berkarakter, berbudaya, dan berkelanjutan.


Berita Pusat LAINNYA