Pesan Dharma dan Ekoteologi pada Pujawali ke-33, Dirjen Bimas Hindu Ajak Umat Menegakkan Dharma dan Melestarikan Alam

Pesan Dharma dan Ekoteologi pada Pujawali ke-33, Dirjen Bimas Hindu Ajak Umat Menegakkan Dharma dan Melestarikan Alam

Jakarta Utara (BIMAS HINDU) - Pujawali ke-33 di Pura Segara Cilincing berlangsung khidmat dengan kehadiran Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan Dharma Wacana yang menyoroti berbagai dinamika keagamaan dan isu yang tengah ramai di media sosial, sekaligus mempertegas nilai-nilai dharma dalam kehidupan umat Hindu, Kamis (4/12/2025).

Dalam sambutannya, Prof. Duija menyinggung fenomena semaraknya generasi muda yang membuat penjor dengan biaya besar. Menurutnya, semangat berkarya perlu diarahkan kembali pada makna kesucian dan simbol keharmonisan dengan alam, bukan sekadar kemegahan. Beliau juga menyoroti pelaksanaan Penampahan Galungan yang sering dilakukan tidak sesuai tahapan, padahal rangkaian 10 hari Galungan memiliki pakem yang tidak dapat diubah.

Dirjen turut menyoroti pola persembahyangan umat yang memiliki rumah di kota dan kampung, sehingga pelaksanaan sugian dilakukan di kota sementara Galungan dilaksanakan di kampung. Fenomena ini, kata beliau, menunjukan adanya dua ketegangan antara tradisi dan kebutuhan zaman, namun tetap harus dijalankan dengan menjaga esensi ajaran.

Prof. Duija menegaskan bahwa persembahan umat Hindu sejatinya bersumber dari alam seperti bunga, daun, buah, dan air, yang menjadi wujud hubungan suci manusia dengan lingkungan. Hal ini sejalan dengan program Menteri Agama mengenai ekoteologi, sebuah pendekatan spiritual yang menekankan pelestarian alam sebagai bagian dari praktik keagamaan. Dirjen mengajak umat untuk menanam pohon di setiap tempat suci, pekarangan, sanggah, dan bahkan menjadikan penanaman pohon sebagai bagian dari upacara pernikahan Hindu.

Beliau juga menyampaikan bahwa Menteri Agama berencana mengunjungi Gunung Salak sebagai representasi ekoteologi dan contoh nyata keharmonisan manusia dengan alam. Dalam kesempatan itu, Prof. Duija memuji perkembangan Pura Segara Cilincing yang kini terlihat lebih hijau dan asri, berbeda dengan kondisi saat upacara ngenteg linggih sebelumnya.

Dharma Wacana, Prof. I Nengah Duija mengangkat kisah Yudistira tentang apa yang membuat matahari terbit dan terbenam. Jawabannya adalah Brahman dan para dewa yang menegakkan dharma, mengajarkan bahwa kebenaranlah yang mengatur keseimbangan alam. Ia juga menyampaikan bahwa orang yang “hidup namun mati” adalah mereka yang tidak pernah mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dan sesama.

Dirjen Bimas Hindu menegaskan bahwa banten bukan makanan Tuhan, melainkan tanda bahwa manusia hidup untuk mempersembahkan dan menjaga kesucian. Untuk mencapai takdir mulia, manusia harus menjalani hidup dengan memuja Tuhan, menjaga lingkungan, serta membangun harmoni sosial sebagai implementasi Tri Hita Karana. Beliau menutup dengan pesan mendalam: “Ayah kita adalah dharma, dan siapa pun yang berlindung pada dharma akan selalu dilindungi oleh dharma.”

Kehadiran Dirjen Bimas Hindu dalam Pujawali ke-33 ini tidak hanya memberikan penguatan spiritual, tetapi juga menanamkan kembali pentingnya pelestarian lingkungan dan pemaknaan tradisi dalam kehidupan umat Hindu di tengah perkembangan zaman.


Berita Pusat LAINNYA