Jawa Timur (Bimas Hindu) - Umat Hindu diajak memperdalam kehidupan spiritual melalui pengendalian pikiran, pengamalan ajaran yoga, dan pelestarian warisan peradaban Hindu di Gunung Wilis. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Dr. Ida Made Pidada Manuaba, dalam Dharma Wacana pada Piodalan ke-25 Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Minggu (25/10/2026).
Hadir mewakili Dirjen Bimas Hindu, Dr. Ida Made Pidada Manuaba menyampaikan Dharma Wacana bertepatan dengan Purnama Kalima di Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Dusun Kampung Adat Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret. Kegiatan tersebut Di hadiri oleh Gubernur Jatim yang diwakilkan kepada kepala badan kesbangpol linmas provinsi Jawa Timur,
Bupati nganjuk yg diwakilkan oleh kepala badan kesbang polinmas kabupaten Nganjuk dan jajaran OPD, perwakilan pemerintah daerah, Pembimas Hindu, tokoh agama, para pini sepuh, serta umat Hindu.
Dalam Dharma Wacana, ia mengajak umat memahami Gunung Wilis sebagai kawasan yang memiliki nilai historis dan spiritual dalam perjalanan peradaban Hindu di Jawa. Menurut materi yang disampaikannya, kawasan tersebut telah dikenal sebagai gunung suci sejak era Mataram Hindu hingga Majapahit.
“Sejak era Mataram Hindu sampai Majapahit, Wilis sudah dianggap gunung suci,” Ujar Dr Ida Made Pidada Manuaba.
Ia juga memaparkan kisah-kisah tradisi lokal yang menghubungkan Gunung Wilis dengan sejumlah tokoh dalam sejarah Jawa. Prabu Jayabaya dikaitkan dengan pertapaan di kawasan Air Terjun Sedudo, Patih Gajah Mada dengan tapa brata di Ngliman, sedangkan Prabu Brawijaya dikaitkan dengan laku spiritual di Bajulan.
Selain tradisi tersebut, materi Dharma Wacana menyoroti Kompleks Candi Penampihan sebagai salah satu peninggalan penting di kawasan Gunung Wilis. Materi itu mencatat temuan arca Ganesha dengan penanggalan dari sejumlah periode kerajaan, yang digunakan untuk menjelaskan keberlanjutan aktivitas spiritual di kawasan tersebut.
Pembahasan mengenai sejarah itu kemudian dihubungkan dengan pentingnya pendakian spiritual dalam tradisi Hindu. Dalam materi yang sama, perjalanan spiritual dijelaskan sebagai upaya menyucikan tubuh, pikiran, dan atma melalui tapa brata, yoga, dan samadhi.
Memasuki pembahasan ajaran yoga, Ida Made Pidada Manuaba menekankan pentingnya mengendalikan gejolak pikiran. Ia merujuk pada Yoga Sutra I.2, yang dalam materi presentasinya dijelaskan melalui ungkapan “Yoga’s Citta Wretti Nirodah”.
“Yoga adalah mengendalikan atau mendiamkan riak gelombang pikiran,” Ujarnya.
Pengendalian pikiran menjadi bagian penting dalam membangun ketenangan batin dan kejernihan dalam bertindak. Melalui latihan yang berkelanjutan, umat diharapkan mampu mengelola keinginan, mengendalikan indra, serta mempertimbangkan setiap tindakan berdasarkan nilai-nilai dharma.
Materi Dharma Wacana tersebut juga menguraikan empat jalan yoga atau Catur Yoga, yakni Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga, dan Raja Yoga. Keempatnya dijelaskan melalui pendekatan yang saling melengkapi, mulai dari bekerja dan mengabdi kepada Tuhan, mencintai Tuhan, mengarahkan pikiran kepada Tuhan, hingga mencapai penyatuan spiritual dengan-Nya.
Keempat jalan tersebut memberikan pemahaman bahwa penghayatan ajaran Hindu dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian. Ketulusan dalam bekerja, penguatan bhakti, pendalaman pengetahuan, dan latihan pengendalian pikiran menjadi bagian dari proses membangun kualitas spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, umat diajak memahami delapan tahapan yoga, yaitu yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Tahapan tersebut mencakup disiplin moral, pembentukan kebiasaan baik, pengaturan postur dan napas, pengendalian indra, pemusatan perhatian, meditasi, hingga pendalaman kesadaran spiritual.
Pemahaman terhadap tahapan yoga diharapkan tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi juga mendorong penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengendalian diri, kedisiplinan, dan ketekunan menjalankan kewajiban merupakan bagian dari upaya menghidupkan ajaran agama dalam perilaku nyata.
Piodalan ke-25 Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis menjadi momentum untuk memperkuat penghayatan spiritual sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan dan warisan leluhur. Melalui Dharma Wacana tersebut, umat Hindu diajak menyeimbangkan pelaksanaan ritual dengan pengendalian pikiran dan pengamalan dharma, sehingga nilai-nilai agama dapat menjadi pedoman dalam membangun keharmonisan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan alam lingkungan.