Upacara Mejaya-Jaya di Pura Besakih: Momentum Penyucian Diri Menuju Pelayanan Umat

Upacara Mejaya-jaya di Pura Agung Besakih menjadi momentum spiritual bagi pengurus PHDI Pusat 2026–2031 untuk memperkuat persatuan dan pelayanan umat Hindu.

Karangasem (Bimas Hindu) - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija, menghadiri upacara Mejaya-jaya Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat masa bakti 2026–2031 di Pura Agung Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (24/10/2026). Upacara ini menjadi momentum penyucian diri sekaligus permohonan tuntunan spiritual bagi pengurus baru dalam menjalankan tugas organisasi dan pelayanan kepada umat Hindu.

Prosesi Mejaya-jaya diikuti jajaran pengurus PHDI Pusat yang terpilih dalam Mahasabha XIII PHDI di Jakarta, serta pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat masa bakti 2026–2031 yang terpilih dalam Mahasabha IV PSN Pusat di Denpasar. Ritual dipimpin lima sulinggih Sabha Pandita PHDI Pusat, yakni Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Darmita selaku Dharma Adhyaksa PHDI Pusat, bersama Ida Shri Bhagawan Putra Nata Wangsa Pemayun, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, Ida Rsi Agung Wayahan Suta Dharma Jaya Giri, serta Ida Pedanda Rshi Agung Pinatih Kesuma Yoga.

Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, didampingi Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Infokom Pengurus Harian PHDI Pusat, Ida Bagus Alit Wiratmaja, menyampaikan bahwa Mejaya-jaya merupakan agenda utama pada awal masa kepengurusan.

"Mejaya-jaya ini bukan sekadar seremonial, tetapi fondasi spiritual agar seluruh pengurus mampu mengemban amanah umat dengan penuh tanggung jawab. Ini bagian dari implementasi Dharma Agama dan Dharma Negara dalam menjalankan visi dan misi PHDI sebagai majelis tertinggi keagamaan Hindu di Indonesia," ujar Cantiasa.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu menyampaikan apresiasi atas rekonsiliasi yang terjadi di tubuh PHDI pasca-Mahasabha XIII. Menurutnya, penyatuan arah pemikiran para tokoh menjadi capaian penting bagi harmonisasi umat Hindu.

"Dua tokoh yang kita kenal selama ini, Pak Putu Dunia dan Pak Wisnu, telah bersatu sekarang. Saya yang paling bahagia karena selama ini bukan konflik, tapi ada arah pemikiran yang berbeda," kata Prof. I Nengah Duija.

Ia menambahkan, kedua tokoh tersebut menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada para pihak yang telah memfasilitasi rekonsiliasi dan menyatunya kepengurusan PHDI pasca-Mahasabha XIII PHDI Pusat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus PHDI yang baru dan pengurus PHDI demisioner, unsur Porkompimda Provinsi Bali, para penglingsir puri, serta tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai elemen itu mencerminkan semangat kebersamaan dan dukungan luas terhadap kepengurusan baru PHDI Pusat.

Melalui upacara Mejaya-jaya ini, Pengurus PHDI Pusat 2026–2031 diharapkan mampu menjalankan roda organisasi secara solid, mengedepankan pelayanan kepada umat, serta memperkuat peran PHDI sebagai majelis tertinggi keagamaan Hindu di Indonesia. Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama terus mendorong sinergi dengan majelis keagamaan dalam membina umat dan menjaga kerukunan.


Berita Pusat LAINNYA