Belajar dari Tembang Asmorondono: Cara Perempuan Hindu DIY Merajut Kehangatan Rumah Tangga

Suasana hangat penuh kekeluargaan mewarnai Pertemuan Gabungan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) se-DIY yang digelar di kawasan bersejarah Candi Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Minggu (24/5/2026).

Sleman (Bimas Hindu) – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kawasan bersejarah Candi Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, pada Minggu (24/5/2026). Di bawah naungan langit sore dan kemegahan relief candi peninggalan abad ke-8, puluhan perempuan yang tergabung dalam Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) se-DIY berkumpul. Mereka tidak hanya hadir untuk mempererat tali silaturahmi, tetapi juga untuk merenungkan kembali esensi terdalam dari sebuah hubungan pernikahan melalui bait-bait warisan leluhur Jawa.

Dalam pertemuan gabungan tersebut, nilai-nilai keharmonisan rumah tangga dibedah secara mendalam melalui pendekatan seni dan budaya lokal. Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kemenag DIY, Didik Widya Putra, mengajak seluruh hadirin yang didominasi oleh para ibu dan istri untuk menyelami makna mendalam dari Tembang Macapat Asmorondono (Asmaradana).

Didik melantunkan bait-bait indah dari Tembang Asmorondono bertema Sido Asih, sebuah warisan kearifan lokal yang secara mendalam mengajarkan tentang kesetiaan, kerukunan, serta komitmen bersama dalam membina rumah tangga:

“Pamintaku nimas sido asih, Atut runtut tansah reruntungan, Ing sarina sawengine, Datan ginggang sak rambut, Lamun adoh caketing ati, Yen cedhak tansah mulat, Sido asih tuhu, Pindha mimi lan mintuna, Ayo nimas bareng hanetepi wajib, Sido asih bebrayan.”

Artinya:

“Permintaanku kekasih, semoga cinta kita terwujud (saling mengasihi), Hidup rukun dan selalu harmonis berdampingan, Sepanjang siang dan malam, Tiada renggang walau sehelai rambut, Hati terasa dekat meski raga berjauhan, Saling menjaga dan memperhatikan saat berdekatan, Cinta kasih yang sejati, Bagaikan sepasang mimi dan mintuna (pasangan sehidup semati), Mari bersama-sama menunaikan kewajiban hidup, Membangun rumah tangga dengan landasan kasih.”

Menurut Didik, bait ini mengandung pesan batin yang sangat kuat bagi pasangan suami istri. "Makna lagu Asmorondono mengajarkan tentang pentingnya membangun rumah tangga yang harmonis, penuh kesetiaan, kerukunan, dan cinta kasih. Keharmonisan keluarga menjadi dasar terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera,” jelas Didik Widya Putra. 

Pembahasan tembang ini sangat selaras dengan program prioritas Ketahanan Keluarga (Keluarga Sukinah) yang terus digaungkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI. Program ini menekankan pentingnya bimbingan pasca-nikah serta peran perempuan sebagai pendidik pertama di dalam rumah tangga.

Ketua WHDI DIY, Ni Nyoman Trisnawati, dalam sambutannya menegaskan bahwa perempuan memegang kunci utama dalam menjaga ketahanan batin keluarga.

"Seorang istri dan ibu harus terus belajar dan membuka wawasan seluas-luasnya. Kita tidak boleh berhenti mendidik diri sendiri agar mampu menjadi pendamping suami dan pendidik anak-anak yang bijaksana. Dengan pengetahuan dan keteguhan nilai dharma, perempuan adalah fondasi kokoh yang merajut keharmonisan rumah tangga," tutur Ni Nyoman Trisnawati.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ketua WHDI Sleman, Ninik Pande, selaku tuan rumah. Ia menyambut hangat kehadiran seluruh peserta di situs cagar budaya Candi Kedulan. "Pertemuan di pelataran candi purbakala ini menjadi momentum istimewa untuk mengingatkan kita bahwa ajaran dharma dan kearifan lokal harus terus hidup berdampingan. Semoga ini memperkuat komitmen kita untuk menjadi perempuan Hindu yang kreatif, mandiri, berbudaya, dan selalu berlandaskan nilai-nilai kebajikan," ungkapnya.

Selain pembekalan batin dan spiritual, pertemuan gabungan ini juga diisi dengan berbagai kegiatan kreatif yang mengasah potensi lahiriah para anggota. Suasana pelataran candi yang semula khidmat seketika berubah meriah dengan diadakannya Lomba Line Dance dan Lomba Rangkai Buket Jajanan Tradisional.

Tak kalah menarik, hilir mudik para pengunjung meramaikan stan Bazar UMKM WHDI. Berbagai produk kuliner nusantara, kerajinan tangan, hingga busana adat ditampilkan oleh perwakilan kabupaten dan kota se-DIY. Aktivitas bazar ini menjadi wujud nyata dari pilar Pemberdayaan Ekonomi Umat yang didorong oleh Kemenag, memberikan ruang bagi perempuan Hindu untuk mandiri secara finansial sekaligus menopang kesejahteraan keluarga mereka.

Melalui perpaduan antara olah batin lewat filosofi Asmorondono, penguatan spiritual di candi bersejarah, serta pemberdayaan ekonomi kreatif, WHDI DIY sukses membuktikan bahwa peran perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan lentera utama dalam merawat kehangatan keluarga dan masyarakat.


Berita Daerah LAINNYA