Tahukah Anda?

Benarkah Berbohong Diperbolehkan dalam Hindu? Penyuluh Kemenag Jelaskan Konsep Panca Nṛta

Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Bali I Wayan Winaja menyampaikan dharma wacana tentang konsep Panca Nṛta dalam Program Mimbar Agama Hindu di RRI Denpasar.

Denpasar (Bimas Hindu) Benarkah ajaran Hindu membolehkan seseorang berbohong? Sekilas, pertanyaan tersebut terdengar bertentangan dengan ajaran satya atau kejujuran yang menjadi salah satu nilai utama dalam kehidupan umat Hindu. Namun, dalam kondisi tertentu, ajaran Hindu mengenal konsep Panca Nṛta, yaitu lima bentuk ketidakjujuran yang diperbolehkan selama bertujuan menjaga keselamatan, keharmonisan, dan kemaslahatan, bukan untuk merugikan orang lain.

Konsep tersebut dijelaskan oleh Penyuluh Agama Hindu Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Wayan Winaja, saat menyampaikan dharma wacana dalam Program Mimbar Agama Hindu yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar, Rabu (29/7/2026).

Dalam pemaparannya, Winaja menjelaskan bahwa Panca Nṛta merupakan bagian dari ajaran etika Hindu yang bersumber dari Slokāntara, yang menerangkan adanya lima bentuk kebohongan yang tidak dipandang sebagai dosa karena dilakukan demi tujuan yang lebih luhur. Menurutnya, ajaran ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan dalam bertindak harus tetap berlandaskan dharma, sehingga kejujuran tidak dipahami secara kaku tanpa mempertimbangkan situasi dan tujuan yang baik.

Winaja menjelaskan, lima bentuk Panca Nṛta tersebut meliputi ucapan kepada anak-anak untuk tujuan pendidikan, ucapan demi menyelamatkan diri atau menghadapi musuh, ucapan yang menjaga keharmonisan hubungan suami istri, ucapan yang memberi harapan kepada orang sakit, serta ucapan dalam aktivitas perdagangan yang mempertimbangkan keberlangsungan usaha. Kelima kondisi tersebut bukan dimaksudkan untuk melegalkan kebohongan, melainkan memberikan ruang bagi kebijaksanaan dalam menghadapi situasi tertentu.

Sebagai contoh, orang tua kerap menggunakan ungkapan tertentu agar anak menjaga sopan santun, atau seseorang dapat menyampaikan ucapan yang menenangkan kepada orang yang sedang sakit agar semangat hidupnya tetap terpelihara. Dalam situasi yang mengancam keselamatan jiwa, seperti menghadapi musuh atau tindak kejahatan, ucapan yang tidak sepenuhnya sesuai fakta juga dapat dibenarkan apabila bertujuan melindungi kehidupan. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa ukuran utama dalam Panca Nṛta bukanlah kebohongan itu sendiri, melainkan niat dan manfaat yang dilandasi nilai dharma.

Meski demikian, Winaja menegaskan bahwa Panca Nṛta tidak boleh dijadikan pembenaran untuk membiasakan diri berbohong. Menurutnya, kebohongan yang dilakukan demi keuntungan pribadi, menutupi kesalahan, atau menyesatkan orang lain justru bertentangan dengan ajaran Hindu. Seseorang yang terus-menerus mencari pembenaran atas kebohongannya hanya akan menciptakan kebohongan baru yang pada akhirnya menghilangkan kepercayaan dari orang lain.

"Lebih baik tidak mencari pembenaran untuk sesuatu yang tidak baik. Kalau terus mencari pembenaran dengan alasan berbohong demi kebaikan, nantinya akan timbul banyak sekali kebohongan beserta alasan-alasan pendukungnya," ujarnya Winaja dalam dharma wacananya.

Melalui penyampaian materi Panca Nṛta, masyarakat diharapkan memahami bahwa ajaran Hindu tidak semata-mata berbicara mengenai benar atau salah secara harfiah, tetapi juga menekankan kebijaksanaan dalam menerapkan nilai-nilai dharma pada setiap situasi kehidupan. Dengan pemahaman tersebut, umat diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial sehingga tercipta kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.


Berita Daerah LAINNYA