Palu (Bimas Hindu) - Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SD Inpres 3 Tondo, Kota Palu, diarahkan tidak hanya pada penguasaan pengetahuan keagamaan, tetapi juga pada praktik ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dilakukan melalui pembelajaran mantra dan tata cara mebanten saiban kepada 18 siswa, Senin (14/9/2026).
Guru Pendidikan Agama Hindu SD Inpres 3 Tondo, Ni Putu Devki Ulliartika Tunggal Devi, S.Fil.H., mengajak siswa mengenal mantra, memahami maknanya, dan mempraktikkan mebanten saiban sesuai tuntunan yang diajarkan. Pembelajaran tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan praktik keagamaan yang dekat dengan keseharian peserta didik.
“Dalam proses pembelajaran ini tidak hanya menekankan kemampuan siswa dalam menghafalkan mantra, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai makna dan tujuan dari setiap praktik keagamaan,” kata Ni Putu Devki.
Menurutnya, kemampuan menghafal mantra perlu disertai pemahaman agar siswa mengetahui nilai yang terkandung dalam praktik keagamaan. Nilai itu antara lain bhakti, rasa syukur, disiplin, ketulusan, serta penghormatan terhadap kehidupan dan lingkungan.
Mebanten saiban menjadi salah satu praktik yang diperkenalkan kepada siswa. Persembahan tersebut dilakukan setelah selesai memasak atau menikmati makanan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Melalui praktik itu, siswa belajar menghubungkan ajaran yang diperoleh di ruang kelas dengan kebiasaan sehari-hari. Mereka tidak hanya mengenal tata cara pelaksanaannya, tetapi juga memahami makna syukur yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran tersebut sejalan dengan pesan Bhagavad Gita IV.34 yang menempatkan proses belajar sebagai jalan memperoleh pengetahuan melalui kerendahan hati, bertanya, dan pelayanan kepada guru:
“Tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā, upadekṣyanti te jñānaṁ jñāninas tattva-darśinaḥ.”
“Pelajarilah pengetahuan itu dengan kerendahan hati, dengan bertanya dan dengan pelayanan; orang-orang bijaksana yang melihat kebenaran akan mengajarkan pengetahuan kepadamu.”
Ajaran tersebut menegaskan pentingnya hubungan antara pengetahuan, bimbingan guru, dan praktik nyata. Dalam pendidikan agama, proses belajar tidak berhenti pada kemampuan memahami materi, tetapi juga bagaimana nilai yang dipelajari diterjemahkan menjadi perilaku.
Ni Putu Devki mengatakan pembelajaran mantra dan mebanten saiban diarahkan agar siswa memiliki pengalaman langsung dalam menjalankan ajaran Hindu. Praktik yang dikenalkan di sekolah juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan mereka di lingkungan keluarga.
“Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak sekadar mampu mengucapkan mantra dan melaksanakan saiban, tetapi juga memahami nilai bhakti, rasa syukur, disiplin, ketulusan, serta penghormatan terhadap kehidupan dan lingkungan,” ujarnya.
Pembelajaran berbasis praktik itu menempatkan pendidikan agama sebagai proses pembentukan karakter sejak dini. Mantra dan mebanten saiban menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal ajaran Dharma sekaligus membangun kebiasaan bersyukur, disiplin, dan menghargai kehidupan.
Bagi 18 siswa SD Inpres 3 Tondo, pembelajaran tersebut menjadi pengalaman untuk mengenal ajaran Hindu melalui praktik yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nilai yang dipelajari di kelas pun memiliki ruang untuk diterapkan kembali dalam kehidupan keluarga dan lingkungan.
Kontributor : I Made Dwikarya Putra. S.P