Buru (BIMAS HINDU) – Pendidikan sejati tidak sekadar mengisi ruang akal budi dengan deretan ilmu pengetahuan akademik, melainkan mengukir kehalusan budi pekerti dan keteguhan moral di dalam relung sanubari jiwa. Berangkat dari kesadaran teologis bahwa generasi muda adalah tunas peradaban yang harus dijaga kemurnian karakternya di tengah gelombang disrupsi zaman, jajaran Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru menghadirkan pencerahan rohani melalui program Pembinaan Karakter Agama Hindu bagi para peserta didik di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Buru pada Selasa (28/07/2026).
Kegiatan pembinaan yang sarat akan nilai-nilai edukasi moral dan spiritual ini mengusung tema sentral yang sangat kontekstual, yakni "Menjadi Generasi Hindu Berkarakter di Era Modern". Forum pembinaan ini dirancang sebagai ruang refleksi interaktif bagi para pelajar untuk memahami bahwa ajaran suci agama bukanlah sekadar teori hapalan di atas kertas, melainkan panduan hidup yang harus diejawantahkan secara nyata dalam sikap, tutur kata, dan kebiasaan sehari-hari.
Dalam pemaparan materinya, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru, Pipin Jujun Pratiwi, S.Ag., menyoroti kompleksitas tantangan moral yang dihadapi oleh kaum remaja di era kontemporer. Derasnya arus kemajuan teknologi digital, jebakan media sosial, dinamika pergaulan bebas, hingga ancaman krisis sosial seperti perundungan (bullying) menuntut adanya perisai mental dan karakter yang kokoh.
"Pembinaan karakter keagamaan ini esensialnya bukanlah sekadar menambah tumpukan pengetahuan teoretis tentang ajaran agama, melainkan menjadi laboratorium jiwa untuk belajar menata diri menjadi pribadi yang jauh lebih mulia, bijaksana, dan bertanggung jawab. Di era modern yang serba cepat ini, kecerdasan intelektual semata tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan masa depan seseorang. Generasi muda wajib memiliki karakter yang berakar kuat, menguasai seni pengendalian diri, menghargai sesama manusia, serta memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi agar tidak menjadi bumerang bagi kehidupannya," ungkap Pipin Jujun Pratiwi di hadapan ratusan siswa.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa hakikat karakter tercermin dari konsistensi sikap dan perilaku yang berpijak pada kejujuran, kedisiplinan, kesopanan, serta kepedulian sosial. Sebagai kompas utama pembentukan kepribadian luhur umat Hindu, Pipin mengenalkan kembali ajaran fundamental Tri Kaya Parisudha, yang mencakup tiga disiplin penyucian diri: Manacika (mengendalikan pikiran agar senantiasa bersih, positif, dan penuh kebijaksanaan), Wacika (menjaga perkataan agar jujur, santun, dan menyejukkan tanpa menyakiti hati sesama), serta Kayika (melaksanakan perbuatan luhur yang mendatangkan kemaslahatan bagi alam semesta).
"Apabila tiga pilar kesucian pikiran, ucapan, and perbuatan ini senantiasa kita selaraskan dan arahkan pada kebaikan, maka niscaya kita akan tumbuh menjadi manusia yang dipercaya, dihormati, dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar," tambahnya menegaskan.
Sebagai penguat pesan moral, Pipin turut menyitir mutiara kebijaksanaan universal dari Kitab Suci Bhagavad Gita Bab VI Sloka 5, yang mengingatkan bahwa setiap insan memiliki tanggung jawab penuh atas nasib dirinya sendiri melalui disiplin batin. Bahwa pikiran dan diri kita adalah sekutu terbaik jika dikendalikan dengan Dharma, namun akan menjelma menjadi musuh terbesar tatkala dibiarkan dikuasai oleh hawa nafsu.
Di penghujung sesi pembinaan, ia berpesan agar para pelajar senantiasa merawat kedisiplinan berbakti kepada orang tua, menghormati para guru, menjauhi segala bentuk perundungan, serta menjadi agen perubahan yang cerdas digital. Pembentukan karakter agung, imbuhnya, tidak pernah lahir dalam sekejap, melainkan ditempa melalui ketekunan merawat kebiasaan-kebiasaan positif setiap hari.
Melalui langkah proaktif ini, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru terus membuktikan komitmen nyata kehadiran para penyuluh agama sebagai garda terdepan pembinaan umat. Diharapkan, ikhtiar berkelanjutan ini mampu melahirkan generasi muda Hindu yang tidak hanya cerdas dan kompetitif, melainkan juga memiliki keimanan yang tangguh, berakhlak mulia, serta siap menebarkan nilai-nilai kedamaian di tengah dinamika peradaban modern.