Dalami Nilai Kasih Sayang Semesta, Siswa Pasraman Labuan Bajo Bedah Sloka Bhagavadgita di Pura

Kegiatan pembinaan yang menyasar siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Labuan Bajo (Bimas Hindu) — Generasi muda Hindu yang bernaung di bawah Pasraman Widya Saraswati kembali menunjukkan semangat spiritualnya melalui kegiatan pembelajaran keagamaan yang digelar di kawasan Pura Agung Giri Segara Labuan Bajo, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan pembinaan yang menyasar siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ini didampingi langsung oleh tim tenaga pendidik dari berbagai unsur. Di antaranya adalah Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat, I Made Sujati, S.Ag.; aparat Polwan Polres Manggarai Barat, Putu Uji Sariani; serta Guru PPPK SMP Negeri 1 Komodo, Ni Made Suliati, S.Ag.

Kegiatan diawali dengan aksi Seva (pelayanan tanpa pamrih) dan pembagian tugas yang harmonis. Putu Uji Sariani bertugas menghaturkan canang di setiap pelinggih, Ni Made Suliati mengoordinasikan siswa untuk gotong royong membersihkan area pura, sedangkan I Made Sujati mempersiapkan sarana persembahyangan berupa air suci (tirtha) dan bija.

Setelah area suci bersih dan sarana siap, para siswa duduk bersimpuh melangsungkan persembahyangan bersama. Prosesi diawali dengan melantunkan Puja Tri Sandhya, dilanjutkan dengan Kramaning Sembah, dan ditutup dengan Nunas Tirtha, Mebija, serta salam Parama Santi.

Usai penyucian diri melalui persembahyangan, kegiatan berlanjut pada proses belajar mengajar sesuai jenjang pendidikan. Pada sesi ini, materi difokuskan pada pendalaman susastra suci Bhagavadgita Bab IX, khususnya pada pembedahan makna Sloka 29 dan Sloka 34.

Dalam ulasannya mengenai Sloka IX.29, I Made Sujati menjelaskan bahwa hakikat "Aku" di dalam bait tersebut adalah representasi Tuhan Yang Maha Esa. Ia menekankan bahwa Tuhan mengasihi seluruh ciptaan-Nya secara universal dan tanpa diskriminasi.

"Bahwa kata 'Aku' dalam sloka itu adalah hakikat Tuhan itu sendiri. Tuhan adalah sama bagi semua makhluk; maksudnya Tuhan yang tunggal itu mengasihi semua ciptaan-Nya tanpa membeda-bedakan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan," terang I Made Sujati di hadapan para siswa.

Ia kemudian mengontekstualisasikan ajaran ini melalui contoh-contoh nyata dalam mitologi dan kehidupan. Misalnya, hubungan kasih antara Sri Kresna dan Arjuna yang tidak hanya sebatas kawan, tetapi memanifestasikan ikatan guru dan murid. Ia juga mencontohkan keseimbangan dengan hewan melalui konsep wahana para dewa, seperti Lembu (Nandi) sebagai wahana Dewa Siwa dan Burung Garuda sebagai wahana Dewa Wisnu, serta pentingnya tumbuh-tumbuhan sebagai penyangga kehidupan.

Lebih lanjut, pembahasan beralih ke Sloka IX.34 yang berfokus pada jalan Bhakti (pengabdian) sebagai metode untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

"Umat manusia di dalam mendekatkan dirinya kepada Tuhan dilakukan dengan memusatkan pikiran kepada-Nya, berbhaktilah kepada-Nya. Dengan bersujud, menyembah, dan juga mengendalikan diri kita dengan Tuhan sebagai tujuan tertinggi, maka seorang pemuja akan tiba kepada Tuhan," urainya mengakhiri materi.

Melalui pendekatan yang integratif antara teori dari kitab suci dan praktik peribadatan di pura, bimbingan ini diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda Hindu Labuan Bajo yang memiliki keteguhan Sradha (iman) sekaligus welas asih yang tinggi terhadap seluruh makhluk hidup dan alam semesta.


Berita Daerah LAINNYA