Di Balik Tabir Leak, Penyuluh Hindu Kemenag Klungkung Tanamkan Pesan Dharma bagi Warga Binaan Rutan Klungkung

Pembinaan mental warga binaan kembali dilakukan melalui penyuluhan agama Hindu di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Klungkung

Klungkung, (BIMAS HINDU) – Upaya memperkuat pemahaman keagamaan, wawasan budaya, dan pembinaan mental warga binaan kembali dilakukan melalui penyuluhan agama Hindu di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Klungkung, Selasa (9/6/2026). Mengangkat tema "Menguak Tabir Leak di Bali," kegiatan yang dipandu Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung ini memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang leak sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual Bali, sekaligus mendorong terbentuknya pola pikir positif bagi warga binaan.

Penyuluhan berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Materi yang disampaikan tidak hanya mengulas sisi budaya dan sejarah leak, tetapi juga mengajak warga binaan memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, warga binaan tidak sekadar memandang leak dari sisi mistis, melainkan juga sebagai media pembelajaran tentang kearifan lokal dan ajaran kehidupan.

Dalam pemaparannya, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, I Dewa Ngakan Hardiputra, Ni Putu Ari Spriyanti, dan Ni Wayan Novitasari, menjelaskan bahwa leak merupakan bagian dari tradisi tutur dan kepercayaan masyarakat Bali yang kerap disalahpahami.

"Banyak cerita yang berkembang di masyarakat menjadikan leak identik dengan ilmu hitam dan hal-hal yang menakutkan. Namun, secara filosofis, keberadaan cerita tentang leak juga mengandung pesan moral mengenai pengendalian diri, hukum karma phala, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara dharma dan adharma dalam kehidupan," ujar I Dewa Ngakan Hardiputra.

Ia juga menjelaskan bahwa leak diuraikan dalam berbagai lontar, seperti Lontar Kala Tattwa, Siwa Tattwa, dan Durga Purana, yang menjadi sumber pemahaman masyarakat mengenai liak sebagai bagian dari warisan spiritual Bali yang berkaitan dengan kekuatan niskala.

"Menurut beberapa lontar, seseorang dapat menjadi liak karena beberapa faktor, seperti keturunan, kemampuan spiritual yang diperoleh melalui proses pengraksa jiwa atau pengolahan batin, serta penguasaan ilmu tertentu yang berkaitan dengan tenaga dalam dan kekuatan gaib," sambungnya.

Diskusi yang berlangsung hangat mencerminkan tingginya minat warga binaan terhadap tema yang diangkat, mulai dari asal-usul leak hingga kaitannya dengan ajaran agama Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali.

Pemahaman yang lebih baik terhadap agama, budaya, dan nilai-nilai kehidupan diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan untuk membangun karakter yang lebih positif saat kembali ke tengah masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama, khususnya dalam mewujudkan layanan keagamaan yang memberi manfaat nyata serta menumbuhkan kerukunan dan cinta kemanusiaan melalui penguatan nilai moral, pengendalian diri, dan penghargaan terhadap warisan budaya bangsa.


Berita Daerah LAINNYA