Kuala Lumpur (Bimas Hindu) — Nilai luhur spiritualitas Nusantara kembali mengambil peran strategis dalam diplomasi perdamaian internasional. Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Bantul, I Gede Suwardana, mewakili delegasi Daerah Istimewa Yogyakarta menyuarakan pesan keharmonisan universal dalam Konferensi ke-3 Dialogue Cities Southeast Asia 2026 yang diselenggarakan di Hotel Sheraton Imperial, Kuala Lumpur, Malaysia, (25–29/10/2026).
Konferensi tingkat regional bertema Shared Futures: Dialogue for Resilient and Inclusive Cities ini diprakarsai oleh International Dialogue Centre (KAICIID) bekerja sama dengan Allied Coordinating Council of Islamic NGOs (ACCIN) Malaysia. Forum internasional ini mempertemukan puluhan perwakilan pemerintah kota, pemimpin lintas agama, akademisi, serta unsur masyarakat sipil dari sejumlah kota besar Asia Tenggara, di antaranya Yogyakarta, Kuala Lumpur, Davao, Singapura, dan Bangkok.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam perhelatan ini, antara lain CEO ACCIN Ir. H. Mohd. Jamaludin Shamsudin, Ketua Eksekutif Suluh Centre Puan Nurul Izzah Binti Anwar, serta perwakilan KAICIID Mitra Modaressi.
Di hadapan para pemimpin lintas iman dan pemangku kebijakan kawasan, I Gede Suwardana mengangkat falsafah adiluhung Vasudhaiva Kutumbakam yang bersumber dari susastra suci Maha Upanishad, menegaskan bahwa seluruh umat manusia pada hakikatnya merupakan satu ikatan keluarga besar semesta tanpa sekat identitas primordial.
“Ajaran Hindu menuntun kesadaran universal melalui prinsip Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga. Batasan geografis, suku, bangsa, maupun perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi pemisah kemanusiaan. Jika kita meyakini dunia ini sebagai rumah bersama, maka merawat persaudaraan, saling menghormati, dan menolak kebencian adalah kewajiban mutlak setiap manusia,” tegas I Gede Suwardana dalam paparannya.
Ia menambahkan bahwa esensi kedamaian dalam teologi Hindu harus dibuktikan melalui tindakan konkret, yakni cara memperlakukan sesama dengan welas asih, kerelaan berbagi, serta komitmen hidup berdampingan secara rukun di tengah dinamika masyarakat urban yang heterogen.
Kehadiran aparatur Bimas Hindu dalam forum regional Asia Tenggara ini menegaskan komitmen institusi dalam mengarusutamakan nilai-nilai moderasi beragama, kohesi sosial, dan diplomasi kebudayaan di kancah pergaulan antarbangsa.
Kontributor: Heni Purwanti