Eksplorasi Spiritualitas Aluk Todolo, Pokjaluh Hindu Sulsel Bedah Sakralitas Tradisi ‘Manuk Apa’ sebagai Fondasi Budaya Nusantara

Forum kajian ilmiah Dharma Tula Tematik

Makassar (Bimas Hindu) — Kekayaan teologi dan ritualitas komunitas adat Hindu Nusantara menjadi fokus utama penguatan moderasi beragama di Sulawesi Selatan. Bertepatan dengan momentum suci Hari Saraswati, Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu Provinsi Sulawesi Selatan menggelar forum kajian ilmiah Dharma Tula Tematik yang membedah secara mendalam tradisi keagamaan sakral Manuk Apa’ milik komunitas Hindu Aluk Todolo (Alukta) di Pura Giri Natha Makassar, (Sabtu, 31/10/2026).

Mengusung tema “Paramparāyāḥ Utkarṣaṃ Prati: Dari Tradisi Menuju Prestasi”, forum keagamaan ini menempatkan kearifan spiritual Aluk Todolo keyakinan leluhur masyarakat Toraja yang berakar pada pemuliaan alam semesta dan Puang Matua sebagai khazanah esensial dalam kerangka besar kebudayaan Hindu Indonesia.

Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kemenag Sulsel I Gusti Ayu Uik Astuti, Ketua PHDI Sulsel diwakili Made Merada, Ketua PHDI Kota Makassar Dewa Nyoman Mahendra Jaya, serta Ketua Banjar Hindu Makassar I Wayan Subur.

Dalam paparan intinya, narasumber Marsya Julita mengupas tuntas anatomi ritual Manuk Apa’. Tradisi ini merupakan ritus persembahan dan pensucian agung dalam tatanan Aluk Todolo yang diselenggarakan secara berkala pada siklus bulan keenam dan keduabelas kalender adat Toraja. Secara filosofis dan kosmologis, ritus Manuk Apa’ memiliki kedudukan serta fungsi spiritual yang setara dengan Hari Raya Galungan pada tradisi Hindu di Bali, yakni sebagai puncak peneguhan kemenangan nilai-nilai kebenaran (dharma) atas kekacauan (adharma), sekaligus wujud sujud syukur atas anugerah kesuburan dan keharmonisan hidup.

“Ritual Manuk Apa’ dalam tatanan Hindu Aluk Todolo bukan sekadar seremoni folklor atau peninggalan masa lampau, melainkan manifestasi laku spiritual murni yang sarat kode etik kosmologis. Di dalamnya terkandung penghormatan mendalam terhadap tatanan penciptaan, keseimbangan relasi antara manusia dengan Sang Pencipta (Puang Matua), leluhur (todolo), serta alam semesta. Generasi muda Hindu memiliki kewajiban moral untuk merevitalisasi dan menjaga orisinalitas ritus ini agar tetap berdiri kokoh sebagai identitas peradaban,” urai Marsya Julita.

Diskursus ini turut dikorelasikan dengan hakikat pemuliaan ilmu pengetahuan (jnana) Hari Saraswati yang dibawakan narasumber I Ketut Mundra, menegaskan bahwa ilmu pengetahuan sejati bertugas melindungi dan memajukan tradisi lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Dukungan kelembagaan ditegaskan oleh Ketua PHDI Kota Makassar, Dewa Nyoman Mahendra Jaya. Menurutnya, pembedahan tradisi Alukta di forum resmi keagamaan menjadi bukti nyata bahwa ajaran Hindu di Indonesia hidup berdampingan secara organik dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan karakteristik adat setempat.

Melalui forum kajian tematik ini, Ditjen Bimas Hindu menegaskan komitmen berkelanjutan dalam mengadvokasi, mendokumentasikan, dan memperkuat perlindungan hak-hak tradisi keagamaan Hindu lokal di seluruh nusantara sebagai tiang penyangga ketahanan spiritual bangsa.

 

Kontributor: I Ketut Artana Muliadi


Berita Daerah LAINNYA