Etika Bukan Hafalan, KARMA Ajak Siswa SMPN 5 Banjarangkan Hidupkan Nilai Hindu dalam Keseharian

Kegiatan KARMA di SMP Negeri 5 Banjarangkan

Klungkung, (BIMAS HINDU) – Di tengah kesibukan hari belajar, ratusan siswa SMP Negeri 5 Banjarangkan, Klungkung, mendapat pengalaman berbeda pada Rabu (10/6/2026). Bukan ujian, bukan tugas — melainkan sebuah perjumpaan hangat bersama para Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung melalui program Kampanye Agama Ramah Masyarakat (KARMA).

Mengangkat tema "Etika Berbusana ke Pura dan Tata Cara Persembahyangan," KARMA hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengajak para siswa memahami nilai-nilai luhur yang selama ini mungkin terlewat di tengah rutinitas. Tata cara persembahyangan yang benar, etika sopan santun di tempat suci, hingga pentingnya menghargai sesama — semua disampaikan dalam suasana interaktif yang akrab dan menyentuh.

Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah kehadiran layanan konseling di sela-sela penyuluhan. Para penyuluh tidak hanya berdiri di depan kelas, tetapi juga duduk bersama siswa, mendengar, dan memahami persoalan yang mereka hadapi. Sebuah pendekatan yang menempatkan siswa bukan sebagai objek pembinaan, melainkan sebagai pribadi yang diakui dan dihargai.

Perwakilan Penyuluh Agama Hindu, I Nyoman Tirtayasa, menegaskan bahwa tujuan KARMA melampaui sekadar transfer pengetahuan keagamaan.

"Kampanye ini diharapkan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, inklusif, serta memperkuat karakter generasi muda yang menghargai perbedaan. Sekaligus menanam moderasi beragama dan perilaku ramah lingkungan," ujarnya.

Respons positif datang dari Kepala SMP Negeri 5 Banjarangkan, Luh Gede Yuliastini, yang menilai KARMA mengisi ruang yang selama ini belum terjangkau sepenuhnya oleh pembelajaran formal di kelas.

"Kegiatan KARMA ini menambah wawasan serta pemahaman di luar jam belajar selain mendapatkan materi agama dari guru sekolah. Terlebih diselingi dengan kegiatan konseling," paparnya.

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam KARMA — moderasi beragama, kepedulian lingkungan, dan penghargaan terhadap perbedaan — bukan sekadar materi yang dihafal. Ia diharapkan tumbuh menjadi karakter yang hidup dalam perilaku sehari-hari para siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.

Langkah ini selaras dengan semangat Asta Protas "Kemenag Berdampak," khususnya dalam mewujudkan pendidikan yang unggul, ramah, dan terintegrasi, serta mempererat kerukunan dan cinta kemanusiaan. Karena sejatinya, etika beribadah yang baik bukan hanya tentang bagaimana seseorang berdiri di hadapan Tuhan — tetapi juga tentang bagaimana ia berdiri di hadapan sesama.


Berita Daerah LAINNYA