Denpasar (Bimas Hindu) - Upaya penguatan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai spiritual kembali diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar Program Studi Filsafat Hindu Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar di Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Minggu (24/5/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Internalisasi Nilai-Nilai Filsafat Hindu dalam Ekoteologi untuk Menumbuhkan Etika Lingkungan” sebagai respons atas tantangan krisis lingkungan global yang semakin kompleks.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus bentuk dukungan terhadap gagasan Ekoteologi yang terus digaungkan Menteri Agama RI Prof. K.H. Nasaruddin Umar dalam membangun kesadaran spiritual dan ekologis masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri akademisi, perangkat desa, serta masyarakat Desa Ubung Kaja. Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini memadukan nilai filsafat Hindu, konsep ekoteologi, dan pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) sebagai sarana edukasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ketua Program Studi Filsafat Hindu, Ni Wayan Sumertini, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga implementasi langsung di tengah masyarakat.
Ia menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai filsafat Hindu dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.
“Nilai Tat Tvam Asi, Tri Hita Karana, serta pandangan bahwa alam adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian dari pendekatan baru dalam pengabdian masyarakat, agar generasi muda Hindu mampu memahami nilai spiritual sekaligus memiliki literasi digital yang memadai.
Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Brahma Widya, I Nyoman Subrata, yang mewakili pimpinan fakultas, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam memperkuat peran sosial di tengah masyarakat.
Ia menilai pengabdian ini penting untuk menjembatani ilmu akademik dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam isu lingkungan dan spiritualitas.
“Perguruan tinggi keagamaan Hindu memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan nilai-nilai spiritual,” ungkapnya.
Perbekel Desa Ubung Kaja, I Wayan Astika, menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai tema ekoteologi sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini di tengah arus modernisasi dan digitalisasi.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut, termasuk melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa di wilayah desa tersebut.
Dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat mendapatkan materi mengenai ekoteologi dalam perspektif filsafat Hindu, internalisasi nilai Tri Hita Karana dan Tat Tvam Asi, serta pemanfaatan teknologi AI dalam penguatan etika lingkungan.
Kegiatan ini juga menekankan bahwa menjaga lingkungan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual manusia dalam menjaga keharmonisan alam semesta.
Kegiatan ini mendorong pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga bagian dari praktik spiritual yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ekoteologi yang dipadukan dengan nilai filsafat Hindu serta pemanfaatan teknologi memperkuat cara pandang masyarakat dalam melihat hubungan manusia dengan alam, sehingga kesadaran untuk merawat lingkungan tumbuh lebih nyata, berkelanjutan, dan sesuai dengan tantangan kehidupan saat ini.
#Bimas Hindu #PTKHN #UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar