Banyuwangi (Bimas Hindu) – Pembinaan keagamaan terus dihadirkan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter warga binaan pemasyarakatan (WBP). Menjelang Hari Suci Kuningan, Penyelenggara Hindu Kankemenag Kabupaten Banyuwangi bersama Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu menggelar persembahyangan bersama dan pembinaan rohani bagi warga binaan Hindu di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banyuwangi, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang diikuti warga binaan beragama Hindu tersebut berlangsung khidmat dengan pendampingan pembina warga binaan Hindu Lapas Banyuwangi, Wayan. Selain menjadi rangkaian penyambutan Hari Suci Kuningan, pembinaan ini bertujuan memperkuat kesadaran spiritual sekaligus menumbuhkan optimisme warga binaan dalam menjalani masa pembinaan.
Pembina warga binaan Hindu Lapas Banyuwangi, Wayan, mengapresiasi pendampingan yang selama ini dilakukan secara berkelanjutan oleh jajaran Kementerian Agama. Menurutnya, pembinaan keagamaan memberikan dampak positif dalam membangun mental dan karakter warga binaan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang terus memberikan perhatian melalui pembinaan keagamaan bagi warga binaan Hindu di Lapas Banyuwangi. Semoga pembinaan ini memberikan manfaat dan menjadi bekal bagi mereka ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Pada sesi pembinaan, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Oksan Wibowo, mengajak warga binaan memaknai Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai pengingat akan pentingnya memenangkan pertarungan melawan sifat-sifat negatif dalam diri.
Ia menjelaskan bahwa esensi kemenangan Dharma bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan keberhasilan mengendalikan Sad Ripu, yakni enam musuh dalam diri manusia yang terdiri atas kama (nafsu), loba (keserakahan), kroda (amarah), moha (kebingungan), mada (kesombongan), dan matsarya (iri hati).
“Jika kita belum mampu mengalahkan Sad Ripu, maka kemenangan yang kita rasakan hanyalah kesenangan semu. Apa yang kita alami saat ini merupakan buah dari karma yang pernah kita perbuat. Karena itu, kita harus menjalani dan menerima jalan hidup ini dengan penuh kesadaran dan rasa syukur,” kata Oksan.
Ia menambahkan bahwa masa pembinaan hendaknya dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki sikap, serta membangun tekad menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
“Hidup adalah perjalanan karma. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani dan mensyukuri jalan karma tersebut. Ketika nanti kita sudah keluar dari sini dan menjadi pribadi yang lebih baik, itulah kemenangan yang sesungguhnya,” pesannya.
Pembinaan keagamaan ini menjadi bekal bagi warga binaan untuk memperkuat nilai-nilai Dharma, membangun kesadaran memperbaiki diri, serta kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab.
#Bimas Hindu #Penyelenggara Hindu Banyuwangi #Penyuluh Hindu Banyuwangi #Hindu