Cerita di Balik Megahnya Pura Jagatnatha Sendawar Kalimantan Timur

Kecil dalam Bilangan, Besar dalam Semangat: Cerita di Balik Megahnya Pura Jagatnatha Sendawar yang Dirawat 20 Keluarga

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kemenag Kaltim, Semuel, S.Ag., bersama dengan umat di wantilan Pura Jagatnatha Sendawar Agung, Kutai Barat

Kutai Barat (Bimas Hindu) – Jauh di ufuk barat Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya 330 kilometer dari hiruk-pikuk Kota Samarinda, terukir sebuah kisah tentang sradha bhakti dan kebersamaan yang luar biasa. Perjalanan panjang selama 10 jam melalui jalur darat seakan terbayar lunas saat Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kemenag Kaltim, Semuel, S.Ag., menginjakkan kaki di wantilan Pura Jagatnatha Sendawar Agung, Kutai Barat, pada Jumat Sore (8/5/2026)

Kunjungan yang dibalut dalam suasana simakrama ini bukan sekadar pertemuan dinas formal, melainkan sebuah bentuk apresiasi mendalam bagi umat Hindu yang bermukim di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia.

Di balik kemegahan Pura Jagatnatha Sendawar Agung yang berdiri kokoh dan luas, tersimpan fakta yang menyentuh hati. Berdasarkan informasi dari Ketua PHDI Kutai Barat, jumlah umat Hindu di sana hanya berkisar 20 Kepala Keluarga atau sekitar 60 jiwa saja. Namun, kecilnya bilangan tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka untuk membangun dan merawat tempat suci yang begitu megah secara mandiri.

"Saya sangat kagum dan mengapresiasi umat di sini. Walaupun jumlahnya tidak banyak, mereka mampu merawat pura yang begitu besar," ujar Semuel dengan penuh rasa haru. Beliau menekankan bahwa kemandirian umat di Sendawar merupakan manifestasi nyata dari rasa memiliki dan filosofi Tri Hita Karana, di mana harmoni tercipta melalui semangat gotong royong yang kental.

Namun, di balik semangat yang besar tersebut, terselip kerinduan akan bimbingan pengetahuan agama. Ketua PHDI Kutai Barat, I Nengah Versi, menyampaikan aspirasi umat, khususnya bagi para Dharmika, yang membutuhkan perhatian lebih dalam hal pendalaman ajaran agama. Kebutuhan akan kegiatan pelatihan seperti Bimtek, tambahan tenaga pendidik agama Hindu, hingga ketersediaan buku-buku keagamaan menjadi harapan utama mereka agar tetap merasa terangkul.

Mendengar permintaan tersebut, Semuel memastikan bahwa kehadiran Kemenag adalah untuk menjadi solusi bagi kendala di lapangan. Pihak Pembimas Hindu Kaltim telah melakukan pendataan terkait kekurangan guru dan buku keagamaan untuk segera diajukan kepada Ditjen Bimas Hindu Kemenag Pusat.

"Hal ini akan menjadi catatan penting kami. Kami berupaya agar permohonan bantuan tersebut segera disetujui sehingga kendala umat di Kutai Barat dapat terselesaikan sedikit demi sedikit,"kata Samuel. Pertemuan ini menutup catatan perjalanan panjang tersebut dengan satu keyakinan: bahwa bagi negara, tidak ada umat yang terlalu jauh untuk dikunjungi, dan tidak ada komunitas yang terlalu kecil untuk diperhatikan.


Berita Daerah LAINNYA