Khidmatnya Penyineb Karya Pura Oebanantha, Bukti Sinergi Sempurna Tri Manggalaning Yadnya di Tanah Kupang (Mengedepankan keberhasilan pelaksanaan dan kekompakan umat)

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur memberikan siraman rohani melalui Dharmawacana pada puncak Upacara Nganyarin, Rsi Bojana

Kupang (BIMAS HINDU) – Rangkaian panjang perayaan spiritual umat Hindu di Kota Kupang resmi ditutup dengan penuh kekhusyukan. Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur memberikan siraman rohani melalui Dharmawacana pada puncak Upacara Nganyarin, Rsi Bojana, sekaligus Penyineb Piodalan Agung dan perayaan Hari Suci Galungan di Pura Agung Oebanantha, Kupang, pada Kamis (18/06/2026).

Kegiatan yang diliputi vibrasi kesucian ini dihadiri oleh jajaran pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) di tingkat Provinsi NTT maupun Kota Kupang. Turut hadir membaur bersama ribuan umat dari Kota dan Kabupaten Kupang adalah Ketua Banjar Agung, para Ketua Tempekan, hingga tokoh adat setempat.

Mengusung tema "Keutamaan Upacara Piodalan Agung", Pembimas Hindu menjabarkan secara mendalam pilar Tattwa (filsafat), Susila (etika), dan Acara (ritual) yang menjadi ruh dari upacara keagamaan ini. Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan upacara Hindu bukanlah sekadar warisan tradisi turun-temurun yang hampa makna, melainkan manifestasi nyata dari ajaran sastra suci. Hal ini sejalan dengan kutipan Atharva Veda XII.1.1 yang menyebutkan bahwa alam semesta ini ditopang kokoh oleh kebenaran, disiplin spiritual, tapa, pengetahuan suci, dan yadnya (pengorbanan suci).

Melalui penjabaran tersebut, umat diajak untuk menyelami kembali makna filosofis di balik setiap ritual. Dimulai dari penyucian sarana dalam Nuwasin Karya dan Memben, wujud kasih sayang terhadap makhluk hidup dalam Mepada, keseimbangan alam melalui Mecaru Manca Kelud dan Rsi Gana, hingga bermuara pada penyucian Melasti dan puncak Piodalan Agung yang diakhiri dengan prosesi Penyineb.

Rasa bangga dan apresiasi tinggi turut disampaikan kepada seluruh umat Hindu di Kupang atas dedikasi luar biasa mereka. Kesuksesan karya agung yang digelar satu dekade sekali ini merupakan buah manis dari harmonisasi Tri Manggalaning Yadnya—yakni kolaborasi niat suci umat sebagai pemilik karya (Yajamana), keterampilan tulus para pengayah (Pancagra), dan tuntunan mantra rohaniawan (Sang Adiksani). Segala proses ini digerakkan dengan semangat kebersamaan dan ketulusan hati (lascarya) selama satu setengah bulan penuh.

Sebagai penutup Dharmawacana, Pembimas Hindu menyampaikan pesan mendalam agar nilai-nilai luhur dari upacara ini mampu diaplikasikan ke dalam kehidupan sosial dan toleransi beragama.

"Dengan memahami hakikat dan nilai-nilai tattwa dalam setiap prosesi, diharapkan sradha (keyakinan) dan bhakti umat kian meningkat. Yadnya ini harus mewujud dalam kehidupan nyata: terciptanya hubungan yang harmonis antarsesama manusia, lestarinya seni budaya, serta terpeliharanya alam lingkungan. Saya berharap tata laksana upacara yang sudah berjalan dengan sangat baik ini dapat terus dipertahankan ke depannya. Mari kita jadikan momentum ini untuk terus menjaga kerukunan internal, memperkuat tali persaudaraan, serta membangun sinergi yang kokoh dengan saudara-saudara kita dari umat beragama lain dan juga pemerintah daerah," tutur Pembimas Hindu berpesan kepada seluruh umat yang hadir.


Berita Daerah LAINNYA