Kolaborasi CAKRA dan KARMA: Selaras Jaga Kesehatan Jasmani dan Selaras Jaga Tradisi Budaya

CAKRA (Cinta dan Agama untuk Kesehatan Masyarakat) dan KARMA (Kampanye Agama Ramah Masyarakat)

Klungkung (Bimas Hindu)-Sinergi lintas sektoral untuk mencetak generasi muda yang tangguh secara fisik sekaligus kokoh secara mental budaya terus digulirkan. Melalui perpaduan dua program inovatif, yakni CAKRA (Cinta dan Agama untuk Kesehatan Masyarakat) dan KARMA (Kampanye Agama Ramah Masyarakat), puluhan siswa diajak untuk menyelami pentingnya menjaga pola hidup sehat sekaligus melestarikan warisan leluhur keagamaan.

Aksi nyata ini dipusatkan di Balai Banjar Kawan Desa Adat Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Langkah ini menjadi bukti konkret implementasi Program Kemenag Berdampak dalam semangat pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, sejalan dengan garis kebijakan institusi dalam menghadirkan pelayanan yang maksimal serta mewujudkan ekosistem pendidikan yang unggul, ramah, dan terintegrasi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan menerjunkan inovasi CAKRA yang bekerja sama dengan tenaga kesehatan dari Puskesmas Banjarangkan II. Sebanyak 68 siswa-siswi dari SMP Negeri 4 Banjarangkan menjalani skrining dan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Pemeriksaan ini dirancang sebagai instrumen deteksi dini sekaligus media edukasi guna menumbuhkan kesadaran para remaja untuk menjaga investasi kesehatan tubuh sejak dini.

Tidak berhenti pada kesehatan fisik, nutrisi mental dan spiritual para siswa langsung disuntikkan melalui program KARMA. Menghadirkan Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Banjarangkan sebagai narasumber, sesi ini mengupas tuntas materi bernuansa lokal: 'Aksara Bali dalam Ritual Hindu'.

"Aksara Bali bukan sekadar goresan estetis atau alat komunikasi visual dari masa lalu, melainkan bagian integral yang sangat sakral dan bernyawa dalam setiap pelaksanaan ritual keagamaan Hindu. Melalui program KARMA ini, kami ingin generasi muda tidak hanya melihat aksara Bali sebagai pajangan budaya, tetapi mampu memahami dan merawat kesuciannya sebagai identitas spiritual yang membentengi mereka di tengah gempuran modernisasi," ujar Penyuluh Agama Hindu saat memberikan paparan di hadapan siswa.

Di tengah gempuran modernisasi, para siswa diberikan pemahaman mendalam bahwa aksara Bali bukan sekadar alat komunikasi visual masa lalu, melainkan bagian integral yang sakral dalam pelaksanaan ritual keagamaan Hindu. Penyampaian materi yang dikemas secara interaktif dan dialogis berhasil memantik antusiasme tinggi dari para peserta remaja tersebut.

"Kami sangat mengapresiasi antusiasme para siswa di Balai Banjar Kawan Desa Adat Timuhun ini. Menyampaikan materi keagamaan dan pelestarian adat secara interaktif serta dialogis terbukti jauh lebih efektif bagi anak muda. Ketika mereka paham bahwa setiap simbol aksara dalam ritual Hindu memiliki makna filosofis yang mendalam, rasa bangga terhadap identitas budaya agamanya akan tumbuh secara organik dalam kehidupan sehari-hari," tambah penyuluh di akhir sesi dialog.

Melalui integrasi apik antara CAKRA dan KARMA, kegiatan ini berhasil mematahkan sekat bahwa pembinaan keagamaan dan pelayanan kesehatan adalah dua hal yang terpisah. Output yang diharapkan dari kolaborasi ini adalah lahirnya generasi muda Hindu yang tidak hanya sehat dan bugar secara jasmani, tetapi juga cerdas, berkarakter, serta bangga akan identitas budaya agamanya dalam kehidupan sehari-hari.


Berita Daerah LAINNYA