Kupas Tuntas Mantra Sapta Werdhi, Pembinaan Pesantian Perkokoh Sradha dan Silaturahmi Umat Hindu Etnis Jawa

Pembinaan Pesantian Perkokoh Sradha dan Silaturahmi Umat Hindu Etnis Jawa

Lampung Tengah (Bimas Hindu) - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, melaksanakan pembinaan intensif kepada kelompok binaan Pesantian Umat Hindu Bandar Jaya Timur, Jumat (5/6). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk doa bersama dan kajian sastra mantra ini digelar di salah satu kediaman umat Hindu di Desa Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, sebagai wujud komitmen Kemenag dalam reaktualisasi nilai-nilai kitab suci di tingkat akar rumput.

Kelompok pesantian yang beranggotakan 45 Kepala Keluarga (KK) dan mayoritas merupakan umat Hindu etnis Jawa ini menjadikan kegiatan doa bersama sebagai agenda rutin yang dilaksanakan setiap setengah bulan sekali. Rangkaian pembinaan diawali dengan pelantunan kidung-kidung suci secara komunal yang mengalun khidmat, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama demi memohon kerahayuan semesta.

Memasuki sesi inti, fungsional Penyuluh Agama Hindu Kemenag Lampung Tengah memandu kajian materi sastra dan diskusi interaktif dengan mengupas tuntas makna teologis yang terkandung di dalam Mantra Ayu Werdi atau yang karib dikenal oleh umat sebagai Mantra Sapta Werdhi. Mantra yang selalu dilafalkan pada saat persembahyangan ini esensinya merupakan sebuah pasrah diri untuk memohon tujuh anugerah utama (Sapta Werdaya) dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ketujuh permohonan suci tersebut meliputi Ayu Werdi untuk memohon umur panjang dan kesehatan; Yasa Werdi agar setiap usaha dan pekerjaan selalu dianugerahi keberhasilan; Pradnyan untuk memohon pencerahan, kebijaksanaan, dan kecerdasan intelektual maupun spiritual; Suka guna memohon kebahagiaan, kegembiraan, serta ketenangan pikiran; Sri atau Sriam untuk memohon kesejahteraan dan kemakmuran hidup; Dharma sebagai permohonan agar sanubari selalu dituntun di jalan kebaikan dan kebenaran; serta Sentana demi memohon keturunan yang baik, suputra, dan berguna bagi sesama.

Dalam arahannya, I Ketut Ginada menekankan pentingnya bagi setiap umat untuk tidak sekadar melafalkan mantra, melainkan wajib memahami arti dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Dirinya menggarisbawahi bahwa dengan memahami arti dan meresapi kedalaman maknanya, vibrasi suci dari mantra tersebut dapat merasuk ke dalam jiwa, memberikan energi positif, serta lebih mudah diwujudkan dalam tindakan nyata pada kehidupan sehari-hari.

“Doa yang diucapkan dengan pemahaman yang matang akan melahirkan keyakinan yang kokoh. Ketika kita tahu apa yang kita mohonkan melalui Mantra Sapta Werdhi ini, maka setiap tindakan kita di masyarakat akan otomatis menyelaraskan diri dengan nilai-nilai dharma tersebut,” ujar I Ketut Ginada.

Melalui pembinaan yang konsisten ini, kegiatan doa bersama kelompok pesantian diharapkan mampu bertransformasi menjadi wadah strategis untuk mempererat tali silaturahmi atau simakrama antar-umat, sekaligus mendongkrak kualitas sradha (keimanan) dan bhakti di lingkungan masyarakat Hindu, khususnya di Bandar Jaya Timur. Dengan pemahaman ajaran agama yang bersumber dari Weda secara paripurna, umat Hindu diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai dharma secara kontekstual, sehingga mampu menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis, damai, dan sejahtera, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas dalam bingkai moderasi beragama.


Berita Daerah LAINNYA