Maknai Panca Gita, Penyuluh Agama Hindu Bekali Warga Binaan Klungkung dengan Nilai Yadnya dan Pengendalian Diri

Pembinaan keagamaan menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran spiritual dan karakter warga binaan. Sebanyak 48 warga

Klungkung (Bimas Hindu) – Sebanyak 48 warga binaan beragama Hindu di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Klungkung mengikuti pembinaan keagamaan yang dikemas dalam Dharma Wacana bertema "Panca Gita sebagai Spirit dalam Pelaksanaan Yadnya", bertepatan dengan Rahina Buda Paing Wuku Krulut, Purnama Sasih Karo, Rabu (29/7/2026). Kegiatan yang dipandu Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung ini menjadi bagian dari penguatan pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Dharma Wacana menghadirkan Penyuluh Agama Hindu I Nyoman Tirtayasa, Dewa Ngakan Gede Hardi Putra, dan Ni Wayan Susantiari. Melalui materi yang disampaikan, peserta diajak memahami makna filosofis Panca Gita, yakni lima unsur suara suci yang selalu mengiringi pelaksanaan yadnya dalam tradisi Hindu, sekaligus menghubungkannya dengan pembentukan karakter dan pengendalian diri.

Dalam pemaparannya, I Nyoman Tirtayasa menjelaskan bahwa Panca Gita terdiri atas bunyi genta, kidung suci, kulkul, gamelan, dan mantra. Menurutnya, setiap unsur memiliki fungsi spiritual yang saling melengkapi dalam membangun suasana sakral serta mengarahkan pikiran umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

"Panca Gita bukan sekadar bunyi yang mengiringi upacara yadnya. Di dalamnya terdapat pesan tentang kesucian, keharmonisan, dan pengendalian diri. Nilai-nilai itu relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal untuk membentuk pribadi yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab," ujar Tirtayasa.

Ia menjelaskan, bunyi genta melambangkan penyucian pikiran, kidung suci membangkitkan rasa bhakti, kulkul menjadi sarana pemersatu umat, gamelan menghadirkan harmoni, sedangkan mantra merupakan media doa yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Pemahaman terhadap makna tersebut, katanya, diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

Materi kemudian diarahkan pada makna yadnya sebagai wujud pengorbanan yang tulus. Warga binaan diajak merefleksikan bahwa semangat yadnya dapat diwujudkan melalui sikap disiplin, pengendalian emosi, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan.

Suasana pembinaan berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan disampaikan peserta, mulai dari makna yadnya dalam kehidupan sehari-hari, pentingnya pengendalian diri, hingga cara mengamalkan nilai-nilai Dharma sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Penyuluh Agama Hindu Dewa Ngakan Gede Hardi Putra menilai pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun optimisme dan kesadaran spiritual warga binaan.

"Kami ingin pembinaan ini tidak berhenti sebagai penyampaian materi, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri. Ketika nilai-nilai Dharma dipahami dan dijalankan, setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik," katanya.

Pembinaan yang dilaksanakan secara rutin tersebut menjadi bagian dari pelayanan keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Klungkung yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan. Melalui pendekatan pembinaan yang berkesinambungan, kegiatan ini diharapkan memperkuat karakter, meningkatkan kesadaran spiritual, serta mendukung proses pembinaan agar warga binaan lebih siap kembali berperan positif di tengah kehidupan bermasyarakat.


Berita Daerah LAINNYA