BANTUL (Bimas Hindu) "Seneng susah dilakoni bareng", sebuah filosofi Jawa yang bermakna susah maupun senang dijalani bersama, menjadi napas utama dalam upacara persembahyangan Atma Wedana untuk mendiang I Gusti Kadek Joslyn Bernando. Almarhum bukan sekadar mahasiswa jurusan Pendidikan Bimbingan Konseling di Universitas Sanata Dharma, melainkan juga bagian dari keluarga besar Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Yogyakarta.
Solidaritas ini terlihat nyata saat pengurus KMHDI Yogyakarta bersama tokoh-tokoh penting Hindu untuk memberikan penghormatan terakhir. Di tengah suasana khidmat di Gedung Santi Sasana Pura Banguntapan, Bantul, pada Kamis (07/05/2026) sore, hadir Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DIY, Didik Widya Putra, bersama Ketua PHDI DIY dan para penyuluh agama.
Kehadiran Pembimas Hindu DIY di tengah duka mahasiswa ini bukan sekadar tugas formalitas. Sebagai representasi Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, kehadiran Didik Widya Putra menegaskan komitmen pemerintah untuk selalu hadir berdampingan dengan organisasi kemasyarakatan dalam kondisi apa pun, baik itu dalam momen kebahagiaan (suka) maupun kedukaan (duka).
Dalam sambutannya, Didik mengingatkan tentang hakikat kehidupan.
"Kita manusia semua pasti akan kembali ke asalnya atau ke penciptanya. Dalam ungkapan Jawa disebutkan 'pesti ono urip lan mati', ada lahir, hidup, dan mati," pesan Didik Widya Putra.
Upacara sakral yang dipimpin oleh Jero Gede Dwija Achir Murti ini bertujuan menyucikan roh almarhum pasca-Ngaben agar benar-benar bebas dari ikatan duniawi. Fokus utama dari prosesi ini meliputi:
- Penyucian (Nyomiaang): Melepaskan atma pitara dari sisa-sisa belenggu fisik.
- Melinggihang: Menghantarkan roh agar dapat berstana di tempat suci (Rong Tiga) sebagai bentuk penghormatan abadi.
- Kesempurnaan: Memandu perjalanan spiritual jiwa menuju penyatuan dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).
Secara mendalam, prosesi ini merujuk pada konsep Pralina, di mana unsur Panca Maha Bhuta (tubuh fisik) melebur kembali ke alam semesta, sementara jiwa atau Atman akan menapaki perjalanannya menuju reinkarnasi atau kebebasan abadi (Moksha). Dukungan dari umat Hindu Banguntapan dan rekan-rekan mahasiswa se-Yogyakarta dalam upacara ini membuktikan bahwa semangat kegotongroyongan tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi umat Hindu di Yogyakarta.