Nusa Penida (BIMAS HINDU) – Di balik keindahan alam Nusa Penida, denyut tradisi harus tetap terjaga melalui tangan para yowana. Berangkat dari kesadaran untuk membumikan ajaran luhur, Penyuluh Agama Hindu dari Pokjaluh Nusa Penida merangkul generasi muda dalam kegiatan bertajuk ‘Realisasi Ajaran Tri Hita Karana melalui Ngayah dan Pembelajaran Dharma Gita’ di Pura Puseh Yeh Ulakan, Desa Suana, pada Selasa (23/06/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 10 anggota Sekaa Teruna Teruni (STT) Ksatria Dharma Sakti. Bagi mereka, ini bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan sebuah perjalanan untuk menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam bingkai Tri Hita Karana.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Okta Rapinanti, mengungkapkan bahwa keterlibatan aktif pemuda dalam menjaga tempat suci adalah bentuk nyata dari pengabdian. "Kami ingin menumbuhkan rasa memiliki. Ketika generasi muda berani turun tangan untuk ngayah dan melantunkan Dharma Gita, saat itulah benih rasa tanggung jawab untuk menjaga kesucian tempat suci serta pelestarian budaya mulai bersemi di dalam diri mereka," ujar Okta.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan aksi ngayah bersih-bersih lingkungan Pura Puseh Yeh Ulakan. Aksi ini menjadi manifestasi dari hubungan harmonis manusia dengan lingkungan (Palemahan) dan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan). Keheningan pura yang dipadukan dengan semangat gotong royong anak muda menjadi pemandangan yang menyejukkan, menegaskan bahwa kesucian tempat ibadah adalah tanggung jawab bersama.
Usai ngayah, suasana beralih menjadi lebih kontemplatif melalui pembelajaran Dharma Gita. Melalui lantunan kidung suci, peserta diajak menyelami nilai-nilai keagamaan yang terkandung di setiap baitnya. Dharma Gita bukan hanya soal seni olah vokal, melainkan media untuk memperkuat sraddha dan bhakti, sekaligus menjaga kelangsungan warisan seni budaya Hindu yang adiluhung.
Langkah kolaboratif ini sejalan dengan visi Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam upaya mewujudkan pendidikan yang unggul dan terintegrasi dengan kearifan lokal. Dengan membawa pembelajaran keagamaan keluar dari ruang kelas dan masuk ke lingkungan pura, generasi muda Nusa Penida diajak untuk tidak hanya memahami teori Dharma, tetapi juga menghidupinya sebagai napas kehidupan sehari-hari.