Merajut Kerukunan Lintas Budaya, Layanan Berjalan Kelompok Kerja Penyuluh Klungkung Pukau Pelancong Asal Prancis

Kemenag On The Boat, layanan edukasi keagamaan dan moderasi beragama yang dilaksanakan di area penyeberangan.

Klungkung (BIMAS HINDU) – Perjalanan fisik melintasi lautan biru menuju sebuah pulau dewata sejatinya dapat menjelma menjadi ruang perjumpaan batin, tempat di mana nilai-nilai kearifan lokal dan moderasi beragama diperkenalkan kepada dunia. Berangkat dari kesadaran kreatif untuk menghadirkan pelayanan publik yang menembus batas ruang dinding kantor, jajaran Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung mendaratkan sebuah inovasi pelayanan bergerak yang memukau. Berlayar memecah ombak di atas kapal penyeberangan, mereka menyapa para pelancong domestik hingga wisatawan mancanegara pada Jumat (24/07/2026).

Momen inspiratif tersebut terangkum dalam program pelayanan bertajuk "Kemenag On The Boat", sebuah model edukasi keagamaan dan moderasi beragama yang diselenggarakan di area dalam rute pelayaran dari Pelabuhan Kusamba menuju Pulau Nusa Penida.

Melalui Kelompok Kerja Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung merancang strategi komunikasi yang berorientasi pada karakteristik audiens. Menyadari bahwa geladak kapal mempertemukan beragam latar belakang manusia mulai dari masyarakat lokal, pelancong domestik, hingga para penjelajah dunia dari berbagai belahan bumi para penyuluh hadir membawa pencerahan yang disesuaikan secara adaptif, termasuk membawakan materi edukasi khusus dalam balutan bahasa Inggris bagi para wisatawan mancanegara.

Materi yang disampaikan tidak sekadar memetakan keindahan situs-situs wisata religi yang tersebar di Nusa Penida, melainkan jauh lebih esensial, yakni menanamkan pemahaman mendalam mengenai etika berbusana, tata krama sosial, serta cara menghormati kesucian pura dan norma budaya masyarakat setempat.

"Penyuluhan agama harus senantiasa disesuaikan berdasarkan karakteristik audiens karena para penumpang yang kami temui di atas kapal ini memiliki latar belakang budaya, bahasa, dan kebutuhan spiritual yang sangat beragam," jelas Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Kadek Cahyadi, tatkala menjelaskan filosofi di balik pendekatan dialogis tersebut.

Suasana di atas geladak kapal pun berubah menjadi ruang kelas terbuka yang hangat. Para penumpang tidak hanya mendengarkan paparan searah, melainkan diberi ruang seluas-luasnya untuk bertanya, berdiskusi, dan berkonsultasi mengenai dinamika kehidupan beragama. Bagi masyarakat lokal dan wisatawan domestik, materi edukasi diperkaya dengan penyuluhan keselamatan pelayaran serta sosialisasi layanan keagamaan kementerian, termasuk informasi rekomendasi tanda daftar pura hingga konsultasi keagamaan.

Inovasi pelayanan yang menjembatani lintas budaya ini menuai apresiasi tulus dari dunia internasional. Salah satu wisatawan mancanegara asal Prancis, Mathieu Bridel, mengungkapkan kekagumannya atas pengalaman tak terduga di tengah perjalanan lautnya menuju Nusa Penida.

"Saya rasa ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa untuk memahami apa saja yang harus kita lakukan setibanya di Nusa Penida, mulai dari etika mengunjungi berbagai pura yang sakral hingga menikmati keindahan pantainya. Saya sangat mengapresiasi kehangatan, keramahan, dan cara pemaparan pulau ini yang sangat mencerahkan. Terima kasih banyak atas pelayanan yang luar biasa ini," ungkap Mathieu Bridel dengan nada penuh kesan.

Respon positif tersebut membuktikan bahwa pelayanan keagamaan yang prima mampu bertransformasi secara dinamis, hadir melebur di ruang-ruang aktivitas publik, dan merangkul siapa saja tanpa memandang batas kewarganegaraan.

Melalui terobosan "Kemenag On The Boat", perjalanan laut menuju Nusa Penida disulap menjadi jembatan peradaban yang membangun kesadaran kolektif. Para pelancong asing tidak hanya mengantongi informasi destinasi wisata, melainkan membawa serta pemahaman luhur bahwa menjejakkan kaki di tanah yang disucikan menuntut kepatuhan etika, penghormatan budaya, dan keluhuran sikap batin.

Langkah progresif ini menjadi manifestasi nyata dari implementasi delapan program prioritas (Asta Protas) Kementerian Agama Republik Indonesia yang digagas oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, terkhusus dalam mewujudkan kehadiran "Layanan Keagamaan Bererdampak" serta mengakselerasi "Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan". Berawal dari ruang tunggu pelabuhan hingga berlayar membelah lautan, gelombang edukasi keagamaan ini terus mengalir menyapa warga lokal, merangkul dunia internasional, dan membawa pesan abadi bahwa setiap perjalanan menuju tempat suci senantiasa bermula dari pengetahuan dan rasa hormat yang mendalam.


Berita Daerah LAINNYA