Lampung Tengah (BIMAS HINDU) — Momen turunnya sang rembulan pada fase bulan mati atau Hari Suci Tilem sejatinya bukan sekadar penanda waktu, melainkan ruang sakral bagi umat Hindu untuk melakukan kontemplasi dan penyucian diri. Semangat inilah yang menyelimuti persembahyangan bersama umat Hindu di Pura Dharma Santi, Kelurahan Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, pada Selasa (14/07/2026).
Berlangsung dengan khidmat dan penuh kedamaian, persembahyangan ini menjadi wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus menjadi momentum strategis untuk melakukan mulat sarira (introspeksi diri) guna meningkatkan kualitas ketahanan spiritual umat di tengah gempuran zaman.
Menyadari besarnya potensi tempat ibadah sebagai pusat edukasi umat, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, S.Pd., S.H., memanfaatkan momen suci tersebut untuk menyuntikkan kesadaran sosial. Menggemakan semangat Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026, ia mengajak umat merenungkan bahaya laten penyalahgunaan narkotika yang mengintai generasi penerus.
Dalam pencerahannya, I Ketut Ginada menarik benang merah yang tegas antara bahaya narkotika dan pelanggaran ajaran Hindu. Ia memaparkan bahwa zat adiktif tersebut tidak sekadar merusak fungsi biologis tubuh, tetapi secara perlahan melumpuhkan fondasi moral manusia.
"Narkoba secara langsung menghancurkan konsep Tri Kaya Parisudha. Ia menodai kesucian pikiran (manacika), yang pada akhirnya akan merusak perkataan (wacika) dan perbuatan (kayika). Oleh karena itu, umat Hindu harus menjadikan nilai-nilai dharma sebagai tameng utama untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan dari pengaruh destruktif ini.".
Lebih jauh, ia mengurai korelasi filosofis yang indah antara Tilem dan upaya pencegahan narkoba. Hari Suci Tilem yang identik dengan peleburan energi negatif, dinilai sebagai waktu paling presisi untuk mereset kembali mental umat. Melalui doa dan pengendalian hawa nafsu, umat memohon tuntunan sang pencipta agar selalu berada di jalan terang, menjauhi kegelapan yang ditawarkan oleh narkotika.
Penguatan spiritual semacam ini diyakini sebagai benteng pertahanan pertama dan paling tangguh yang dimiliki oleh masyarakat. Sinergi antara pembinaan keagamaan yang menyentuh kalbu dan edukasi sosial yang nyata ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda Hindu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan integritas tinggi.
Rangkaian kegiatan yang memadukan spiritualitas dan literasi sosial ini ditutup dengan doa bersama. Di bawah keheningan malam Tilem, seluruh umat yang hadir mengikrarkan komitmen bersama: merawat pelita ajaran agama, memperkokoh persaudaraan, dan berdiri di garda terdepan untuk menciptakan masyarakat Lampung Tengah yang aman, harmonis, dan bersih dari narkoba.