Kulon Progo (Bimas Hindu) – Perayaan Piodalan ke-12 Sanggar Parahiyangan Panepen Tirto Lanceng di Padukuhan Madigondo, Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Samigaluh, Jumat (26/6/2026), tidak hanya menjadi rangkaian ibadah umat Hindu, tetapi juga menghadirkan wajah kerukunan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat. Umat Hindu, komunitas Kejawen, tokoh masyarakat, hingga aparat setempat berkumpul dalam satu perayaan yang menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.
Mengangkat tema "Melalui Piodalan Sanggar Parahiyangan Panepen Tirto Lanceng, Kita Jaga Kerukunan dan Keharmonisan Antarumat Beragama sebagai Wujud Deteksi Dini Konflik Sosial di Tengah Keberagaman", kegiatan tersebut dihadiri Pembimas Hindu Kanwil Kemenag DIY Didik Widya Putra, Ketua PHDI DIY Nengah Lotama, Ketua PHDI Kulon Progo, Dukuh Madigondo, Bhabinkamtibmas Sidoharjo, serta masyarakat sekitar.
Sanggar Parahiyangan Panepen Tirto Lanceng yang berdiri sejak 2014 dikenal sebagai tempat ibadah yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang agama maupun latar belakang kepercayaan. Semangat gotong royong yang melandasi pendiriannya menjadikan sanggar tersebut berkembang sebagai titik temu antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat lereng Menoreh.
Pembimas Hindu DIY, Didik Widya Putra, menilai nilai toleransi yang hidup di Madigondo lahir dari kebiasaan masyarakat yang saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kerukunan akan tetap terjaga ketika masyarakat mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama.
"Sanggar Parahiyangan Panepen Tirto Lanceng menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat saling menjaga dan menghormati, potensi konflik dapat dicegah sejak awal. Nilai inilah yang sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana," ujarnya.
Ketua PHDI DIY, Nengah Lotama, mengatakan kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
"Kami ingin tradisi seperti ini terus hidup karena tidak hanya memperkuat sradha dan bhakti umat, tetapi juga mempererat persaudaraan dengan seluruh elemen masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan kehidupan beragama yang harmonis," katanya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan bantuan sembako kepada para sesepuh sanggar sebagai bentuk kepedulian sosial dari umat Hindu di DIY. Kehangatan yang tercipta sepanjang pelaksanaan piodalan memperlihatkan bahwa tradisi tidak hanya diwariskan untuk menjaga nilai-nilai spiritual, tetapi juga menjadi perekat hubungan antarmasyarakat yang terus relevan di tengah perubahan zaman.
#Bimas Hindu #Pembimas Hindu DIY #Hindu