Penanaman Bibit Mangga dan Alpukat pada Hari Suci Tumpek Uduh Jadi Simbol Kepedulian terhadap Alam dan Masa Depan

Penanaman Bibit Mangga dan Alpukat pada Hari Suci Tumpek Uduh Jadi Simbol Kepedulian terhadap Alam dan Masa Depan

Belitung (Bimas Hindu) - Semangat pelestarian alam dan kepedulian terhadap lingkungan kembali digaungkan umat Hindu di Kabupaten Belitung melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan Pura Puseh, Desa Pelepak Pute, Kecamatan Sijuk, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan program Ekoteologi sekaligus momentum peringatan Hari Suci Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag.

Sebanyak 40 bibit pohon ditanam dalam kegiatan tersebut, terdiri dari 20 bibit mangga dan 20 bibit alpukat. Penanaman dilakukan bersama tokoh agama Hindu, PHDI, WHDI, penyuluh agama, serta umat Hindu setempat sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan penghijauan kawasan suci.

Pembimbing Masyarakat Hindu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, I Nengah Wiardiasa, mengatakan kegiatan penanaman pohon tidak hanya dimaknai sebagai aksi penghijauan, tetapi juga bentuk implementasi ajaran Hindu dalam menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam.

“Hari suci Tumpek Uduh merupakan wujud penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan sekaligus ungkapan syukur kepada Dewa Sangkara atas kesuburan alam. Momentum ini juga menjadi refleksi bersama untuk menjaga dan merawat lingkungan,” ujar Wiardiasa.

Ia menegaskan bahwa konsep ekoteologi bukan sekadar membahas persoalan lingkungan hidup, melainkan panggilan moral dan spiritual untuk mencintai kehidupan secara menyeluruh.

“Ekoteologi mengajarkan kepada kita bahwa manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup adalah bagian dari ciptaan yang saling terhubung dan saling membutuhkan. Ini juga bagian dari implementasi ajaran Tri Hita Karana,” katanya.

Menurutnya, menjaga alam pada hakikatnya merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama manusia, termasuk generasi mendatang yang akan merasakan dampak dari kondisi lingkungan hari ini.

“Ketika kita menjaga bumi, merawat air, udara, tumbuhan, dan hewan, sesungguhnya kita sedang menunjukkan cinta kepada sesama manusia, termasuk generasi yang akan datang. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan kemanusiaan,” ujarnya.

Wiardiasa juga mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

“Cinta kepada Tuhan harus tercermin dalam cara kita menghormati ciptaan-Nya. Dan cinta kepada sesama tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata,” ucapnya.

Ia berharap semangat ekoteologi dapat tumbuh menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat, mulai dari menjaga kebersihan, mengurangi sampah, hemat energi, hingga menumbuhkan rasa hormat terhadap seluruh makhluk hidup.

“Dengan demikian, kita tidak hanya membangun lingkungan yang sehat, tetapi juga mewariskan harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi masa depan,” tambahnya.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai unsur umat Hindu di Belitung. Ketua PHDI Kabupaten Belitung, Wayan Suta, menilai program penghijauan di lingkungan pura membawa dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjadi implementasi nyata nilai-nilai Tri Hita Karana.
“Program yang sangat bagus, harus benar-benar diimplementasikan dengan baik dan berkelanjutan,” kata Wayan Suta.

Selain memperindah kawasan pura, penanaman pohon juga diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekitar, termasuk menjaga keseimbangan ekosistem dan menghadirkan ruang hijau yang lebih asri.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa nilai spiritual dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan melalui aksi nyata yang melibatkan masyarakat secara langsung. Semangat ekoteologi pun diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari budaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan.

#Bimas Hindu #Pembimas Hindu Babel


Berita Daerah LAINNYA