Karanganyar (Bimas Hindu) – Persiapan piodalan Pura Sumbersari dimanfaatkan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali aktivitas keagamaan dan memperkuat kebersamaan umat Hindu di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Penyuluh Agama Hindu Sri Wagini dan Yuanita bersama jajaran pengempon Pura Sumbersari yang berlangsung di kompleks pura, Senin malam (27/7/2026).
Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari persiapan piodalan yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026, penguatan partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan, hingga langkah-langkah membangkitkan kembali tradisi kebaktian rutin yang selama beberapa waktu terakhir mengalami penurunan.
Salah satu kesepakatan yang dihasilkan adalah pelaksanaan piodalan dengan mengedepankan semangat swasembada umat melalui pemanfaatan hasil pertanian warga. Pola tersebut dinilai tidak hanya memperkuat nilai gotong royong, tetapi juga menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi umat yang selama ini mulai berkembang di lingkungan Pura Sumbersari.
Wakil Ketua Pengempon Pura Sumbersari, Harno, mengatakan bahwa keberadaan pura tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan fisik, tetapi dari tumbuhnya partisipasi umat dalam setiap kegiatan keagamaan.
"Menghidupkan pura bukan hanya membangun bangunannya, tetapi membangkitkan hati umat agar kembali hadir, bersembahyang, dan bergotong royong dalam setiap kegiatan keagamaan," ujarnya.
Menurut Harno, pengempon bersama para pemuda Hindu perlu melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat melalui kunjungan dari rumah ke rumah untuk mengajak umat kembali mengikuti kebaktian rutin. Langkah tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan umat Hindu di wilayah tersebut.
Senada dengan itu, Pemangku Hadi Sukiyo berharap kegiatan keagamaan yang akan diaktifkan kembali tidak hanya berfokus pada pelaksanaan persembahyangan, tetapi juga menghadirkan ruang pembinaan melalui ceramah dan dialog keagamaan dengan melibatkan tokoh-tokoh Hindu.
"Pertemuan umat harus menjadi ruang belajar bersama, tempat membangun keyakinan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat melestarikan ajaran Hindu," katanya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Hindu Sri Wagini menekankan pentingnya kesinambungan pembinaan umat, terutama kepada generasi muda. Menurutnya, kegiatan pembelajaran di sekolah maupun Pasraman yang selama ini rutin dilaksanakan setiap Jumat perlu terus diperkuat sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia Hindu.
"Warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan kepada generasi muda bukan hanya harta benda, melainkan nilai-nilai Dharma, budaya leluhur, dan jati diri sebagai Hindu Jawa yang harus terus dirawat," ujar Sri Wagini.
Ia menambahkan, Pura Sumbersari memiliki peran strategis sebagai pusat pembinaan umat Hindu di wilayah Ngargoyoso. Karena itu, sinergi antara penyuluh agama, pengempon pura, tokoh masyarakat, dan umat menjadi faktor penting untuk menghidupkan kembali berbagai kegiatan keagamaan sekaligus memperkuat pelestarian budaya dan tradisi Hindu di daerah tersebut.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah langkah tindak lanjut, di antaranya optimalisasi persiapan piodalan, pengaktifan kembali jadwal kebaktian rutin, serta penguatan keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan keagamaan. Kesepakatan itu menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat kehidupan beragama, mempererat solidaritas umat, dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai Hindu di Kecamatan Ngargoyoso.