Masohi (BIMAS HINDU) – Di tengah derap kehidupan modern yang kerap kali diukur dengan kalkulasi untung rugi, manusia sering kali melupakan esensi terdalam dari sebuah persembahan. Padahal, ritus keagamaan sejatinya diciptakan bukan sekadar sebagai pemenuhan kewajiban seremonial belaka, melainkan sebagai cermin batin untuk merawat kemurnian nurani. Refleksi agung inilah yang bersemi di bumi Seram, tatkala ribuan umat Hindu di Kabupaten Maluku Tengah memadati Pura Mandala Giri di Kota Masohi untuk mengikuti persembahyangan Hari Piodalan dengan penuh kekhidmatan dan kebersamaan pada Rabu (29/07/2026).
Momentum suci Piodalan ini tidak sekadar dimaknai sebagai peringatan hari ulang tahun berdirinya tempat suci semata, melainkan menjelma menjadi ruang transendental yang mengundang umat untuk merenungi kembali kualitas Śraddhā (keyakinan) dan Bhakti (pengabdian) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di balik semerbak dupa dan indahnya tatanan sarana upacara, tersimpan pesan moral yang mendalam untuk merajut kembali simpul-simpul persaudaraan antarsesama umat yang berlandaskan kasih sayang.
Puncak pencerahan batin dalam perhelatan sakral tersebut hadir melalui uraian Dharma Wacana yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah, Agus Kasianto. Mengambil kutipan inti yang menjadi sauh permenungan, yakni "Piodalan sebagai Momentum Memahami Hakikat Yajña yang Tulus Ikhlas Tanpa Pamrih", beliau membentangkan pandangan filosofis yang menggugah kesadaran kolektif umat.
Agus Kasianto memaparkan bahwa esensi dari Yajña (pengorbanan suci) melampaui batas-batas fisik material yang tampak oleh mata kepala. Yajña tidak boleh hanya direduksi sebatas tumpukan banten atau kemegahan upacara semata. Lebih dari itu, Yajña yang sejati bersemayam di dalam kebersihan niat, ketulusan relung hati, keikhlasan dalam ber-ngayah (kerja sosial tanpa pamrih), serta dedikasi pengabdian yang bersih dari motif mengejar pujian maupun imbalan duniawi.
"Yajña yang sejati bukanlah tentang seberapa besar materi yang kita haturkan di atas altar, melainkan tentang seberapa murni ketulusan hati dan keikhlasan jiwa yang menyertainya. Melalui semangat ber-ngayah di tempat suci, kita sesungguhnya tengah menempa diri untuk meruntuhkan tembok egoisme pribadi, mempererat jalinan tali persaudaraan, serta menyucikan kesadaran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," ungkap Agus Kasianto menegaskan esensi dari kutipan tersebut.
Rangkaian perayaan Piodalan di Pura Mandala Giri ini berlangsung secara tertib, khidmat, dan teratur. Prosesi diawali dengan persembahyangan bersama yang diikuti oleh umat Hindu dari berbagai penjuru wilayah di Kabupaten Maluku Tengah. Suasana kekeluargaan yang kental serta gelora semangat gotong royong tampak menyelimuti seluruh area pura. Para pemangku, serati banten, pemuda, hingga para sesepuh melebur dalam satu irama pengabdian, mencerminkan nilai-nilai luhur Sanātana Dharma yang hidup dan bernapas di tengah dinamika masyarakat Maluku.
Melalui perayaan Hari Piodalan ini, ditaruh harapan besar agar umat Hindu tidak berhenti pada tataran merayakan ritual tahunan semata. Lebih jauh, pemaknaan terhadap hakikat Yajña yang tulus ikhlas tanpa pamrih diharapkan mampu meresap ke dalam sanubari, menjadi kompas moral dalam menjalani kehidupan sehari-hari, serta mewujudkan keharmonisan hidup yang abadi bersama sesama makhluk dan Sang Pencipta.