Tulang Bawang Barat (BIMAS HINDU) – Di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas dinamika sosial era modern, kedalaman spiritual menjadi jangkar penyeimbang agar umat manusia tidak kehilangan arah. Mengusung kesadaran untuk menjadikan susastra suci sebagai lentera pemandu kehidupan yang relevan melintasi zaman, ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Pesantian Tiyuh Mulya Jadi, Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tulang Bawang Barat, menggelar kegiatan pembacaan dan pendalaman kitab suci Bhagawadgita pada Sabtu (25/07/2026).
Kegiatan kerohanian yang telah mengakar menjadi rutinitas ini mencerminkan keberhasilan pembinaan keagamaan yang berkesinambungan di wilayah tersebut. Sebagai salah satu kelompok binaan dari Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kelompok Pesantian Tiyuh Mulya Jadi kini telah bertransformasi menjadi komunitas yang berdaya dan mandiri. Kemandirian ini dibuktikan dengan kemampuan para anggota dalam menyusun agenda secara swadaya, memimpin pelaksanaan pelantunan ayat suci, hingga menghidupkan ruang diskusi mengenai implementasi ajaran agama dalam realitas keseharian.
Pertemuan kali ini difokuskan pada sebuah diskursus yang sangat kontekstual, yakni mengusung tema "Mengajarkan Empati dan Toleransi Tinggi di Tengah Perbedaan Sosial serta Maraknya Konflik Dunia Maya maupun Dunia Nyata". Hadir memandu jalannya kegiatan sekaligus bertindak sebagai pemateri adalah Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia, Ida Ayu Komang Puspita, beserta seluruh anggota Kelompok Pesantian Tiyuh Mulya Jadi yang tampak antusias mengikuti jalannya pendalaman materi.
Dalam pencerahannya, Ida Ayu Komang Puspita membedah secara mendalam bagaimana nilai-nilai universal Bhagawadgita mampu merespons tantangan degradasi moral masa kini.
"Ajaran luhur Bhagawadgita senantiasa menuntun umat untuk memiliki kejernihan dalam berpikir, kesantunan dalam bertutur kata, serta kebijaksanaan dalam setiap tindakan yang selalu dilandasi oleh cinta kasih. Empati sesungguhnya bukan sekadar kemampuan pasif untuk merasakan penderitaan orang lain, melainkan harus terwujud secara aktif melalui kepedulian tanpa pamrih, keikhlasan untuk saling membantu, dan kelapangan dada dalam menghormati setiap keping perbedaan. Kitab suci ini adalah mata air inspirasi bagi kita untuk merajut persatuan di tengah kebhinekaan, dan kami berharap semangat ini kelak diwariskan kepada generasi muda," urai Ida Ayu Komang Puspita dengan penuh penghayatan.
Lebih lanjut, ia memberikan penekanan khusus mengenai tantangan beragama di era digital, di mana sekat-sekat informasi telah memudar dan kerap kali memicu percikan konflik di tengah masyarakat.
"Bhagawadgita mengajarkan kita seni tertinggi dalam kehidupan, yakni kemampuan untuk mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan. Di tengah derasnya pusaran arus informasi dan maraknya friksi sosial, baik yang terjadi di jagat maya maupun di dunia nyata, umat Hindu mengemban tugas suci untuk hadir sebagai oase pembawa kedamaian. Mari kita jadikan pembacaan kitab suci ini bukan sekadar rutinitas pelantunan aksara belaka, melainkan sebagai pedoman hidup dalam membangun keluarga yang harmonis dan tatanan masyarakat yang rukun," tambahnya memotivasi para peserta.
Semangat ketekunan yang ditunjukkan oleh para anggota pesantian ini menjadi bukti nyata tumbuhnya kesadaran literasi keagamaan di akar rumput. Di penghujung arahannya, Ida Ayu Komang Puspita juga menyampaikan rasa syukurnya atas pendampingan dari jajaran kementerian.
"Meskipun kami berada di pelosok ujung barat Kabupaten Tulang Bawang Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Way Kanan, kami merasa sangat bersyukur. Kegiatan pesantian ini dapat berdiri tegak secara mandiri berkat tempaan pembinaan dari Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat yang secara berkala sudi datang menyapa, memantau, dan mengevaluasi laju kegiatan kami," ungkapnya dengan bangga.
Melalui konsistensi kegiatan mandiri ini, diharapkan nyala semangat untuk terus mengkaji susastra suci akan semakin berkobar di sanubari umat. Pemahaman mendalam terhadap ajaran Dharma ini diproyeksikan mampu menjadi fondasi kokoh untuk merawat toleransi dan mempererat tali persaudaraan, demi terciptanya tatanan kehidupan yang damai, harmonis, dan saling memuliakan di tengah kemajemukan masyarakat.