Resmikan Rekor Hindu Museum (KORHI), Nengah Duija Soroti Dua Hal Penting

Resmikan Rekor Hindu Museum (KORHI), Nengah Duija Soroti Dua Hal Penting

Denpasar (Bimas Hindu) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija, meresmikan dan membuka untuk umum Rekor Hindu Museum (KORHI) sekaligus Pameran MegaKomik Mahabrata 108 Meter, di Wartam Art Space, Jalan Nangka Selatan No. 29A, Denpasar, Bali, Sabtu (04/10/2025).

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Dirjen Bimas Hindu bersama lima sulinggih, yakni Ida Pedanda Putra Yoga, Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten, Ida Pedanda Gde Dwija Padang Rata, Ida Pandita Mpu Jaya Brahmananda, dan Ida Pedanda Gde Pidada.

Ruang Recording Master Piece Insan Hindu yang kini bertransformasi menjadi Rekor Hindu Museum (KORHI) merupakan bagian dari program unggulan Wartam Institute. Museum ini menjadi wadah pencatatan dan koleksi karya-karya rupa insan Hindu yang berlandaskan konsep Tridukasi (Tri Mantrah: Head, Heart, Hand in Harmony) serta nilai Satyam, Siwam, Sundaram. Museum ini juga mengusung gerakan Gagasan Inovasi Langsung Aksi (G-I-L-A) sebagai wujud nyata inovasi berbasis nilai-nilai Hindu.

Dalam sambutannya, Prof. I Nengah Duija menyampaikan dua catatan penting terkait keberadaan museum ini.

Pertama, ia menegaskan bahwa makna museum tidak hanya hadir hari ini, tetapi akan terus diproduksi ulang oleh generasi berikutnya.

“Jangan terlalu ambisi bahwa makna museum ini akan terjadi pada saat ini. Makna museum akan diproduksi kembali oleh generasi selanjutnya. Artinya, museum ini adalah sebuah teks yang harus terus diinterpretasi ulang oleh masyarakat. Setiap karya di dalamnya akan menemukan maknanya masing-masing seiring perjalanan waktu,” ujar Duija.

Ia mencontohkan bagaimana karya seni seperti Wayang Cenkblong mampu melahirkan berbagai penelitian dan disertasi baru. Hal ini menjadi bukti bahwa ruang seni dan budaya memiliki daya hidup yang terus bertransformasi sesuai dengan konteks zamannya.

Kedua, Dirjen mengingatkan pentingnya museum untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
“Museum ini tidak boleh kalah dengan teknologi. Buatlah Big Data yang dapat diakses oleh masyarakat dunia, berisi seluruh pengetahuan tentang Hindu di museum ini. Ketika mereka mengunjungi situs Museum Rekor Hindu, seluruh data dan informasi yang dibutuhkan sudah tersedia di sana. Ini menjadi tantangan besar bagi kita,” tegasnya.
 
Sementara itu, Kurator Museum Putu Gede Suyoga menjelaskan bahwa kehadiran Museum Hindu tidak hanya sebagai pusat pelestarian dan pengembangan warisan Hindu Nusantara, tetapi juga sebagai ruang ekspresi gagasan dan pemikiran Hindu Dharma bagi kemajuan umat dan bangsa.

Museum ini dirancang dengan pendekatan Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.
Zona Parahyangan menampilkan koleksi spiritual berupa naskah lontar, ritual, simbol religius, serta pustaka yang memuat nilai-nilai Hindu.

Zona Pawongan menghadirkan ekspresi seni dan budaya seperti musik, tari, sastra, arsitektur, dan kiprah tokoh umat Hindu.

Zona Palemahan mengangkat relasi Hindu dengan lingkungan melalui tradisi ekologi, aksi pro-lingkungan, dan konsep keberlanjutan dalam bentuk edumuseum.

Selain itu, Museum Hindu juga meluncurkan program unggulan “Anugerah KORHI (Rekor Hindu Indonesia)”, sebagai bentuk apresiasi bagi insan Hindu yang secara konsisten mengamalkan Tridukasi dalam Tri Mantrah.

Penghargaan ini diberikan kepada insan kreatif yang menghadirkan karya unik, inovatif, dan berdampak bagi umat serta bangsa, berdasarkan prinsip Head, Heart, dan Hand yang harmoni.

Para penerima Anugerah KORHI nantinya akan menjadi pembawa obor edukasi dan inspirasi menuju kemajuan serta kemuliaan Hindu melalui karya nyata berbasis Gagasan, Inovasi, dan Langsung Aksi .


Berita Daerah LAINNYA