Karang Endah (BIMAS HINDU) – Menyelami hakikat ketuhanan sejatinya adalah sebuah perjalanan batin untuk menemukan sumber kebenaran abadi, yang membebaskan manusia dari sekat-sekat fanatisme sempit dan menuntun mereka pada keharmonisan semesta. Berlandaskan semangat suci untuk merawat kemurnian keyakinan serta memperkuat kualitas kerohanian umat, jajaran Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah melaksanakan kegiatan pembinaan rutin bagi kelompok binaan pesantian Karang Endah pada Selasa (28/07/2026).
Rangkaian kegiatan pembinaan spiritual yang sarat akan kedalaman makna teologis ini dipusatkan di kediaman salah seorang warga umat Hindu di Karang Endah. Suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa manakala seluruh warga umat bersama para penyuluh melangsungkan prosesi persembahyangan bersama terlebih dahulu, guna menenangkan gelombang pikiran dan membuka ruang batin sebelum menyerap pencerahan rohani.
Usai persembahyangan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi utama yang dikupas secara mendalam oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, S.Pd., S.H. Beliau mengangkat tema pencerahan yang sangat fundamental mengenai konsep ketuhanan dalam Hindu, yakni "Tuhan Itu Satu, tetapi Orang Bijaksana Menyebut-Nya dengan Banyak Nama".
Dalam uraiannya, I Ketut Ginada merujuk langsung pada sloka suci dari kitab Ṛg Veda I.164.46, yang berbunyi Ekam Sat Viprā Bahudhā Vadanti, yang bermakna bahwa Hakikat Kebenaran Tertinggi itu sesungguhnya hanya satu, namun para bijaksana menyebut-Nya dengan berbagai nama dan sebutan. Ajaran agung ini menegaskan bahwa umat Hindu secara filosofis meyakini keesaan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Sementara beragam manifestasi suci yang dipuja seperti Brahman, Wisnu, Siwa, Dewi Saraswati, dan wujud-wujud lainnya merupakan sarana luhur untuk memahami sifat, fungsi, serta kemahakuasaan Tuhan sesuai dengan dimensi spiritual umat-Nya.
"Konsep dasar yang paling esensial dalam memahami ketuhanan di dalam ajaran agama Hindu adalah kesadaran batin yang utuh bahwa Tuhan itu satu, tunggal tiada duanya, meskipun dipuja dan didekati melalui berbagai jalan tradisi. Ketika seorang umat telah benar-benar memahami bahwa seluruh manifestasi suci berakar dari satu sumber tunggal yang sama, maka keyakinan atau Sraddha mereka tidak akan pernah mudah goyah diterpa angin pengaruh luar," ungkap I Ketut Ginada menegaskan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemahaman teologis yang lurus ini akan melahirkan buah manis berupa "Harmoni Internal". Umat akan disadarkan secara arif bahwa perbedaan ragam tradisi, variasi ritual, hingga kekayaan mantra di berbagai daerah bukanlah jurang pemisah, melainkan anugerah kekayaan cara umat dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa. Pemahaman ini sekaligus menjadi perisai moral untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, tidak hanya diinternal umat Hindu, tetapi juga di tengah kemajemukan bangsa Indonesia yang majemuk.
Rangkaian kegiatan pembinaan yang penuh kekhidmatan ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis, di mana para warga antusias bertukar pikiran seputar pendalaman sastra suci. Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama sebagai wujud rasa syukur yang mendalam, serta panjatan pengharapan agar kehidupannya senantiasa dinaungi kedamaian, kerukunan, dan keteguhan dalam melangkah di jalan Dharma.