Serang, Banten (Bimas Hindu) – Mengurus jenazah sering kali dianggap sebagai urusan teknis dan pemenuhan kewajiban ritual semata. Namun, bagi krama Hindu di Provinsi Banten, prosesi Nyiramang Layon (memandikan jenazah) adalah sebuah laku spiritual yang penuh khidmat dan sarat akan nilai filosofis tinggi.
Guna memisahkan mitos dari ajaran sastra yang sesungguhnya sekaligus membangun kemandirian umat, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Cilegon bersinergi dengan Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Keagamaan Nyiramang Layon. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (7/6/2026) bertempat di Wantilan Pura Eka Wira Anantha, Serang, Banten.
Acara yang dipandu langsung oleh Jro Mangku Ida Bagus Putra Jaya sebagai narasumber ini dihadiri oleh puluhan perwakilan umat serta jajaran tokoh penting lintas wilayah, mulai dari pengurus PHDI Kota/Kabupaten Serang, PHDI Kota/Kabupaten Tangerang, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Banten, hingga para Ketua Banjar setempat.
Dalam pemaparannya, Jro Mangku Ida Bagus Putra Jaya menekankan bahwa pengamalan ajaran agama Hindu tidak boleh berhenti pada aspek lahiriah atau kuantitas upakara (sarana upacara) saja. Umat harus mulai bergerak menyentuh aspek Tattwa yaitu pemahaman keagamaan yang mendalam dan esensial.
“Prosesi Nyiramang Layon bukan sekadar aktivitas fisik membersihkan tubuh raga yang telah tiada. Ini adalah bagian krusial dari pelaksanaan Pitri Yadnya, sebuah jalan kasih untuk menyucikan badan kasar (sthula sarira) sebelum dikembalikan ke alam semesta,” ujar Jro Mangku Ida Bagus Putra Jaya.
Melalui pendekatan berbasis sastra agama, peserta diajak untuk memahami setiap urutan memandikan jenazah dan doa pengantar yang dilafalkan. Dengan memahami Tattwa-nya, penggunaan sarana prasarana upakara pun dapat dilakukan secara efisien, tepat guna, dan bebas dari rasa panik atau kebingungan yang sering melanda keluarga inti saat menghadapi kedukaan.
Langkah proaktif yang diinisiasi oleh PHDI Kota Cilegon dan Bimas Hindu Banten ini mendapat apresiasi yang setinggi-tingginya dari Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Banten. Kegiatan edukasi berbasis praktik ini dinilai sebagai bentuk pelayanan keagamaan yang sangat nyata dan berdampak luas bagi ketahanan psikologis dan spiritual keluarga.
Secara terpisah, semangat perpindahan dari ritualisme luar menuju perenungan batin (upasana) dan penguatan Tattwa ini sangat selaras dengan Rencana Strategis (Renstra) Ditjen Bimas Hindu Tahun 2025–2029. Salah satu program prioritas Ditjen Bimas Hindu di bawah payung besar Kementerian Agama RI adalah Layanan Keagamaan Berdampak, khususnya dalam meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan keagamaan umat (Sadhana/Upasana).
Melalui program Ditjen Bimas Hindu, edukasi keagamaan ke depan diarahkan agar umat tidak sekadar melaksanakan tradisi tanpa arah, melainkan memiliki literasi kitab suci dan sastra yang kuat. Dengan demikian, umat Hindu mampu menjalani kehidupan beragama yang cerdas, moderat, dan penuh kesadaran spiritual.
Melalui standarisasi tata cara memandikan jenazah yang sesuai dengan tatanan sastra Hindu ini, diharapkan Banten dapat memelopori lahirnya kemandirian krama yang berbasis pada kedalaman ilmu (Vidya), sehingga mampu menghadapi lingkaran kehidupan dan kematian dengan penuh ketenangan serta keikhlasan.