Medan (BIMAS HINDU) – Membangun kerukunan tidak selalu harus dilakukan di atas mimbar formal. Bagi Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Elirosa Tarigan, SE., M.Sos., dialog santai justru menjadi ruang paling efektif untuk memecah kebuntuan komunikasi antarumat beragama.
Pada Kamis (02/07/2026), Elirosa Tarigan hadir dalam kegiatan Ngopi Bareng Dialog Kerukunan yang digelar di Rakan Kuphi, Medan. Pertemuan ini menjadi ajang strategis yang dihadiri oleh pimpinan lintas instansi, di antaranya Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Ketua FKUB Provinsi Sumatera Utara, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumut, serta para Kepala Bidang dan Pembimbing Masyarakat di lingkungan Kanwil Kemenag Sumut. Hadir pula dalam diskusi hangat tersebut Kepala Badan Kesbangpol Pemprov Sumut dan perwakilan dari BIN Sumatera Utara.
Bagi Elirosa, forum yang diinisiasi oleh Kanwil Kemenag Sumut ini adalah langkah konkret untuk membumikan moderasi beragama melalui pendekatan yang lebih personal dan persuasif. Dalam pandangannya, menjaga stabilitas sosial di wilayah majemuk seperti Sumatera Utara membutuhkan komitmen lintas sektoral yang terus-menerus. Ia menekankan bahwa kerukunan bukanlah kondisi statis, melainkan ikhtiar aktif yang harus dirawat melalui komunikasi intens antar pemangku kepentingan.
"Kerukunan umat beragama adalah modal sosial yang sangat berharga bagi bangsa ini. Umat Hindu mengajarkan nilai Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar. Karena itu, kita harus terus membangun dialog, memperkuat rasa saling menghormati, dan mengedepankan kebersamaan dalam keberagaman agar Sumatera Utara tetap aman, damai, dan harmonis," ujar Elirosa Tarigan di sela diskusi.
Sebagai pemimpin pembinaan umat Hindu, Elirosa menaruh perhatian besar pada pentingnya keteladanan para pemimpin agama dalam meredam potensi gesekan sosial. Menurutnya, dialog informal di luar ruang formal—seperti yang terbangun bersama jajaran Kemenag, FKUB, Kesbangpol, hingga BIN—sering kali menjadi kunci untuk menemukan solusi atas tantangan keberagaman di akar rumput.
"Forum dialog seperti ini sangat krusial. Ketika tokoh lintas agama dan pemangku kebijakan duduk bersama dalam suasana cair, sekat-sekat perbedaan akan melebur. Masalah yang berpotensi konflik dapat kita selesaikan melalui musyawarah dan pendekatan persuasif sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar."
Lebih lanjut, Elirosa berkomitmen untuk terus mendorong penguatan moderasi beragama secara berkelanjutan. Ia meyakini bahwa edukasi dan pembinaan yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal serta ajaran agama yang menyejukkan adalah kunci dalam membentuk masyarakat yang toleran.
Melalui partisipasinya dalam dialog ini, Pembimas Hindu menegaskan bahwa kehadiran institusi keagamaan tidak hanya berfokus pada urusan ritual internal, tetapi juga memikul tanggung jawab besar dalam menjaga keutuhan bangsa. Harapannya, semangat kebersamaan yang terbangun dalam obrolan hangat ini dapat menular hingga ke tingkat masyarakat paling bawah, menjadikan Sumatera Utara sebagai rumah yang damai bagi seluruh pemeluk agama.