Bangli (Bimas Hindu) — Dalam upaya membumikan nilai-nilai keagamaan ke dalam aksi nyata pelestarian lingkungan hidup, jajaran Bimas Hindu Kabupaten Bangli mengintegrasikan kegiatan penanaman pohon dan edukasi ekoteologi ke dalam kurikulum pembelajaran Pasraman non-formal. Langkah strategis ini diwujudkan melalui aksi penghijauan lingkungan bersama para generasi muda dan pengurus desa adat di kawasan Desa Adat Penida Kelod, Rabu (14/10/2026).
Melalui optimalisasi balai banjar sebagai pusat pendidikan berbasis keumatan, para siswa Pasraman tidak hanya dibekali teori keagamaan di dalam kelas, tetapi juga diajak secara langsung untuk melakukan proses penanaman bibit pohon penghijauan dan tanaman upakara. Para siswa dibimbing secara teknis mulai dari penyiapan media tanam, pembuat lubang tanam yang ideal, penataan komposisi tanah dan pupuk organik, hingga tata cara penanaman yang benar guna memastikan bibit pohon dapat tumbuh secara optimal.
Aksi penanaman pohon ini merupakan bagian integral dari penguatan filosofi Palemahan dalam ajaran Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitar. Penanaman pohon difokuskan pada kawasan sekitar pura dan area fasilitas umum desa adat guna menciptakan ruang yang asri, hijau, serta mampu memberikan pasokan udara bersih sekaligus menjaga resapan air tanah bagi kawasan setempat.
Perwakilan tim Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Bangli menegaskan bahwa pendidikan karakter keagamaan harus melahirkan kepedulian nyata terhadap keseimbangan alam dan perlindungan Ibu Pertiwi dari ancaman kerusakan lingkungan.
“Praktik langsung penanaman bibit pohon dan perawatan lingkungan ini adalah wujud konkret dari ajaran Palemahan. Melalui Pasraman, generasi muda dididik agar pemahaman keagamaannya berbanding lurus dengan aksi nyata di lapangan. Menanam satu pohon berarti menanam kehidupan. Dari sini anak-anak belajar bahwa merawat pohon, mengelola sampah, dan menjaga kebersihan merupakan bentuk ibadah serta kewajiban spiritual yang luhur,” tegas perwakilan Penyuluh Agama Hindu setempat.
Selain aksi menanam, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai kewajiban pemeliharaan pascapenanaman. Setiap kelompok siswa diberi tanggung jawab berkala untuk menyiram, merawat, dan memantau perkembangan bibit pohon yang telah ditanam. Langkah ini bertujuan menanamkan rasa memiliki (sense of belonging) dan ketelitian dalam jiwa generasi muda terhadap kelestarian ekosistem di lingkungan tempat tinggal mereka.
Sinergi antara jajaran pembina keagamaan, prajuru desa adat, dan tokoh masyarakat ini diharapkan dapat mengokohkan peran Pasraman sebagai benteng karakter generasi muda Hindu yang adaptif terhadap isu lingkungan. Melalui pembiasaan aksi hijau yang terstruktur dan berkelanjutan, Bimas Hindu berkomitmen untuk terus melahirkan generasi penerus yang memiliki kedalaman spiritual, pemahaman adat yang kuat, serta tanggung jawab moral dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Kontributor: NILUH DEWI AYU LESTARI, S.I.P.