Bimbingan Teknis GATI Berbasis Agama Hindu: Wujudkan Ayah Teladan sebagai Pilar Keluarga dan Generasi Berkualitas

Bimbingan Teknis GATI Berbasis Agama Hindu: Wujudkan Ayah Teladan sebagai Pilar Keluarga dan Generasi Berkualitas

Denpasar (BIMAS HINDU)  — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar Bimbingan Teknis Materi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) Berbasis Agama Hindu bagi Penyuluh Agama dan Tokoh Agama Hindu, Rabu (8/10), di Bali.

Peserta berasal dari lembaga keagamaan Hindu, tokoh agama, penyuluh agama Hindu, serta peserta dari BKKBN. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak dan ketahanan keluarga melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan Hindu, sehingga tercipta keluarga harmonis, berkarakter, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN dalam paparannya menyampaikan bahwa Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) lahir dari keprihatinan terhadap budaya patriarki yang masih menempatkan peran ayah semata sebagai pencari nafkah.

“Selama ini masyarakat kita terbiasa membagi peran: ayah bekerja di luar rumah, ibu mengurus rumah tangga. Itu yang perlu kita ubah. Ayah harus hadir, berperan aktif dalam pengasuhan dan pendampingan anak,” tegasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan data BKKBN, satu dari lima anak di Indonesia kehilangan figur ayah. Kondisi ini memunculkan berbagai dampak sosial dan psikologis, termasuk meningkatnya risiko masalah kesehatan mental dan perilaku menyimpang.

“Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah berpotensi menghadapi masalah identitas, bahkan penyimpangan perilaku. Fatherless juga berdampak pada lemahnya kesehatan fisik dan mental anak karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari sosok ayah,” ujarnya.

Melalui GATI, BKKBN berupaya mendorong kesadaran baru bahwa ayah adalah figur penting dalam membentuk generasi muda yang sehat, kuat, dan berdaya saing.

Sementara itu, Narasumber dari Ditjen Bimas Hindu, menegaskan bahwa dalam ajaran Hindu, ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pelindung, pendidik, pengasuh, sekaligus teladan spiritual bagi anak-anaknya.

“Kehadiran ayah secara fisik dan emosional memberikan rasa aman dan membentuk karakter anak. Ayah menjadi panutan yang menghadirkan nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Pande.

Ia menjabarkan enam nilai utama Ayah Teladan dalam perspektif Hindu, yaitu:
1.    Śīla (Kesusilaan dan Etika) — Ayah menjadi teladan dalam kesantunan, kedisiplinan, dan moralitas.
2.    Tyaga (Pengorbanan dan Tanggung Jawab) — Ayah rela berkorban demi kesejahteraan keluarga.
3.    Dharma Niṣṭha (Kesetiaan pada Kebenaran dan Tugas) — Ayah teguh menjalankan kewajiban meski menghadapi kesulitan.
4.    Titik Karma (Ketekunan dalam Yadnya dan Bhakti) — Ayah berkomitmen dalam pengabdian kepada Tuhan dan keluarga.
5.    Prājña (Kebijaksanaan dan Ketenangan Hati) — Ayah menjadi penyejuk, bijak dalam mengambil keputusan.
6.    Daya (Kasih Sayang dan Kepedulian) — Ayah menunjukkan kasih sayang melalui perhatian dan perlindungan.

Pande menekankan, keteladanan seorang ayah tidak cukup hanya diajarkan secara teori, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari, sesuai ajaran Manu Smṛti, Weda Smṛti, dan tradisi Hindu Nusantara.

“Ayah dalam keluarga Hindu adalah guru pertama bagi anaknya. Ia membimbing dengan kebijaksanaan dan kasih sayang, menanamkan nilai dharma agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berkarakter, dan berbakti,” tambahnya.
 


Berita Pusat LAINNYA