Rawat Keberagaman, Menag Ajak Perluas Ruang Persamaan untuk Kokohkan Jembatan Perdamaian

Menag Nasaruddin Umar saat memeberikan keynote speech

Tangerang Selatan (Kemenag) - Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar, mengajak seluruh elemen masyarakat dan tokoh lintas agama untuk terus memperluas ruang persamaan (common ground) antarpemeluk agama. Langkah ini dinilai sebagai fondasi krusial dalam memperkokoh pilar perdamaian global serta merawat harmoni sosial di tengah dinamika keberagaman.

Pesan kebangsaan dan kemanusiaan tersebut ditegaskan Menag saat menyampaikan pidato kunci (keynote speech) dalam acara Peluncuran dan Bedah Tiga Buku Seri Pemikiran Prof. Dr. Nasaruddin Umar yang berlangsung khidmat di Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Menurut Menag, setiap agama secara teologis memiliki ajaran dan identitas luhur yang khas dan tidak dapat disamakan. Namun, ia menekankan pentingnya sikap proporsional dalam memandangkan perbedaan dan persamaan tersebut tanpa harus mengorbankan prinsip akidah masing-masing.

“Yang sama jangan dipaksa untuk berbeda. Tapi yang betul-betul berbeda jangan dipaksa untuk sama. Kemampuan menempatkan porsi persamaan dan perbedaan ini secara jernih adalah kunci hidup berdampingan dengan damai,” ujar Menag di hadapan ratusan akademisi, tokoh agama, dan mahasiswa yang hadir.

Lebih lanjut, Menag juga menggarisbawahi bahwa gagasan memperluas ruang persamaan bukanlah upaya sinkretisme atau penyeragaman ajaran teologis. Sebaliknya, hal itu merupakan penjelajahan nilai-nilai universal yang disepakati oleh semua agama, seperti perdamaian, keadilan, cinta kasih, kepedulian sosial, serta penghormatan tinggi terhadap martabat kemanusiaan.

“Makin banyak persamaan yang kita temukan, maka semakin damai kemanusiaan ini,” tuturnya.

Menag menilai, resolusi konflik dan ikhtiar merawat perdamaian di era modern tidak lagi cukup jika hanya mengandalkan pendekatan diplomatik formal yang bersifat transaksional atau politik murni. Ia menawarkan alternatif berupa diplomasi keagamaan (religious diplomacy) dan pendekatan spiritual yang menyentuh relung terdalam kesadaran manusia.

Melalui bahasa agama yang sejuk, inklusif, dan berorientasi pada kemanusiaan, agama diharapkan tidak sekadar menjadi pranata hubungan vertikal antara hamba dengan Sang Pencipta, melainkan menjelma menjadi energi penggerak dan tanggung jawab moral kolektif untuk menjaga kelestarian bumi dan keharmonisan hidup bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Menag mengemukakan gagasan agar Indonesia turut berkontribusi dalam pengembangan teologi kemanusiaan. Pengalaman masyarakat Indonesia dalam hidup di tengah keberagaman dinilai dapat menjadi modal untuk mengembangkan pemikiran keagamaan yang damai dan kontekstual.

Peluncuran dan bedah buku tersebut membahas tiga karya Nasaruddin, yakni Pikiran yang Memurnikan, Simpul Pemikiran, serta Artikel dan Opini. Sejumlah gagasan mengenai kerukunan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kehidupan beragama turut menjadi bagian dalam pembahasan.

Menag berharap ruang persamaan antarpemeluk agama terus diperluas sehingga keberagaman tidak menjadi sumber jarak, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan yang damai dan saling menghormati.


Berita Pusat LAINNYA