Jakarta (BIMAS HINDU) – Kementerian Agama menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan dan profesionalitas guru agama Hindu di seluruh Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. I Nengah Duija, dalam kegiatan Dialog Media bertajuk “Kemenag & Kesejahteraan Guru”, yang berlangsung di Jakarta, Rabu ( 29/10/2025).
Menurut Prof. I Nengah Duija, kesejahteraan guru tidak hanya menyangkut aspek material, tetapi juga kesejahteraan batin yang memberi rasa aman dan kepastian hukum dalam menjalankan tugas. “Dalam ajaran Hindu, kesejahteraan sejati lahir ketika empat bentuk pengabdian dalam Catur Guru, Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, dan Guru Swadhyaya berjalan selaras. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi penerang peradaban,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ajaran kesejahteraan dalam agama Hindu menempatkan guru sebagai sosok utama dalam membangun moral, spiritual, dan sosial masyarakat. “Guru Hindu adalah perpanjangan tangan nilai dharma. Kesejahteraan mereka bukan hanya kebutuhan ekonomi, tetapi bagian dari menjaga kualitas pendidikan keagamaan,” tambahnya.

Hingga tahun 2025, tercatat 6.960 guru agama Hindu tersebar di seluruh Indonesia, baik yang berstatus PNS, PPPK, maupun Non-PNS. Seluruhnya menjadi sasaran program peningkatan kesejahteraan dan profesionalitas dari Kementerian Agama.
Beberapa program utama yang dijalankan antara lain Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan untuk 3.771 guru, tunjangan insentif bagi Guru Non-PNS Belum Sertifikasi sebesar Rp250.000 per bulan, kenaikan tunjangan profesi Guru Non-ASN dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, serta bantuan bagi Kelompok Kerja Guru dan MGMP Hindu kepada 227 lembaga.
“Total dukungan yang kami alokasikan mencapai lebih dari Rp19 miliar, sebagai bentuk nyata hadirnya negara untuk para guru agama Hindu,” jelas Duija.
Selain itu, Ditjen Bimas Hindu juga memperkuat kelembagaan pendidikan keagamaan Hindu melalui pengembangan Idealaya, yaitu satuan pendidikan keagamaan Hindu yang merupakan transformasi dari Pasraman. “Idealaya menjadi solusi konkret agar guru-guru di pasraman memiliki kepastian status dan akses terhadap program pemerintah, termasuk sertifikasi dan tunjangan profesi,” ungkapnya.
Sejak beroperasi, telah berdiri 139 satuan pendidikan Idealaya dengan 734 guru dan 3.803 siswa di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2025, sebanyak 3.700 guru Hindu telah tersertifikasi, dan seluruh proses sertifikasi ditargetkan selesai pada tahun 2026.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Stafsus Menag Ismail Chawidu, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, Kapusbimdik Khonghucu Nurudin, Direktur Pendidikan Kristen Suwarsono, Direktur Pendidikan Katolik Albertus Triyatmojo, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al-Asyhat, serta awak media nasional.

Menutup paparannya, Prof. I Nengah Duija menegaskan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya diukur dari besaran tunjangan, tetapi juga penghargaan terhadap profesinya. “Guru adalah pelita pengetahuan yang menyalakan cahaya kebajikan. Negara wajib memastikan kesejahteraan mereka, lahir dan batin,” pungkasnya.