Dirjen Bimas Hindu Tegaskan Ekoteologi Hidup dalam Tradisi dan Aksi Nyata Umat

Dirjen Bimas Hindu Tegaskan Ekoteologi Hidup dalam Tradisi dan Aksi Nyata Umat

Tangerang (BIMAS HINDU) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kementerian Agama menegaskan bahwa prinsip ekoteologi telah lama menjadi bagian integral dalam kehidupan keagamaan umat Hindu dan diwujudkan melalui ritual, tradisi, serta berbagai program berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, dalam diskusi panel Rapat Kerja Nasional Kementerian Agama Tahun 2025 yang berlangsung di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (16/12/2025).

Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa ajaran ekoteologi dalam Hindu berlandaskan Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam semesta (palemahan). Konsep ini, menurutnya, menjadi kerangka dasar seluruh praktik keagamaan umat Hindu di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. I Nengah Duija mencontohkan bahwa setiap ritual Hindu selalu melibatkan unsur alam seperti bunga, buah, daun, dan air. Hal tersebut mencerminkan penghormatan terhadap alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual.

Ia juga memaparkan sejumlah praktik konkret pelestarian lingkungan yang dijalankan umat Hindu, di antaranya ritual Tumpek Wariga yang diwujudkan melalui gerakan penanaman pohon. Sepanjang tahun 2025, tercatat penanaman 1.021 pohon pada Maret dan 3.169 pohon pada Oktober di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, penerapan teknologi ramah lingkungan berupa biopori di kawasan pura telah dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengatasi persoalan drainase. Tradisi ekologis juga tercermin dalam upacara perkawinan Hindu, di mana pasangan diwajibkan menanam tanaman simbolik sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam.

Pada momentum Tumpek Uye Juli 2025, umat Hindu turut melaksanakan aksi pelepasan satwa sebagai simbol keharmonisan dengan alam, meliputi 2.565 burung, 1.130 ikan, dan 127 tukik di berbagai wilayah.

Di bidang pendidikan, Prof. I Nengah Duija menyampaikan bahwa Ditjen Bimas Hindu sedang memfinalisasi Kurikulum Berbasis Cinta yang akan diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan keagamaan Hindu dan direncanakan untuk diratifikasi pada tahun 2026.

Selain itu, berbagai program keagamaan yang berdampak langsung kepada masyarakat terus ditingkatkan, antara lain layanan kesehatan gratis, aksi kebersihan lingkungan, penanaman pohon, kegiatan kebudayaan, serta penguatan ketahanan keluarga melalui rintisan Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS).

Diskusi panel tersebut disaksikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, pejabat eselon I dan II Kemenag, pimpinan perguruan tinggi keagamaan, serta peserta Rakernas baik secara luring maupun daring.

Melalui berbagai praktik tersebut, Ditjen Bimas Hindu menegaskan bahwa ekoteologi bukan sekadar konsep, melainkan nilai hidup yang sejalan dengan arah kebijakan pembangunan keagamaan Kementerian Agama.


Berita Pusat LAINNYA