Singaraja (Bimas Hindu) - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Prof. I Nengah Duija memberikan pembinaan kepada para pejabat di lingkungan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja. Kegiatan pembinaan tersebut dilaksanakan di Menjangan Hall Kampus IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Jumat (30/01/2026).
Pembinaan ini diberikan kepada 54 pejabat yang sebelumnya telah dilantik oleh Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja. Pejabat yang dilantik terdiri atas Direktur Pascasarjana serta para Ketua Program Studi di lingkungan fakultas dan pascasarjana.
Dalam kegiatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu Porf. I nengah Duija didampingi oleh Direktur Pendidikan Hindu Prof. I Ketut Sudarsana, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja Prof. I Gede Suwindia, para Wakil Rektor, serta para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan IAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Pembinaan ini bertujuan untuk memperkuat kualitas kepemimpinan para pejabat agar mampu mengelola diri secara efektif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin institusi pendidikan tinggi keagamaan Hindu. Direktur Jenderal Bimas Hindu menekankan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata persoalan jabatan, melainkan kemampuan mengelola diri, orang lain, dan organisasi secara berkelanjutan.
Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa banyak organisasi terlalu berfokus pada bakat alami dan mengabaikan potensi untuk berkembang. Pola tersebut, menurutnya, dapat menghambat lahirnya pemimpin pembelajar dan justru melahirkan sikap defensif serta arogansi dalam kepemimpinan. Oleh karena itu, pemimpin dituntut untuk terus belajar dan membuka diri terhadap perubahan.
Ia juga menyoroti pentingnya peran knowledge worker dalam organisasi modern, yakni individu yang bekerja dengan mengandalkan pengetahuan, informasi, serta kemampuan mengembangkan wawasan di tempat kerja. Dalam konteks perguruan tinggi, para pejabat akademik dipandang sebagai knowledge worker yang memiliki tanggung jawab strategis dalam menggerakkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Prof. I. Nengah Duija menyampaikan bahwa organisasi yang memiliki program pengembangan kepemimpinan terbukti memiliki kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan organisasi yang mengabaikan aspek tersebut. Oleh sebab itu, keberadaan para pejabat yang baru dilantik dinilai sangat berharga, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi bangsa dan negara, karena kepemimpinan yang berkualitas akan menentukan arah dan keberlanjutan organisasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepemimpinan bersifat kontekstual sehingga pemimpin harus mampu beradaptasi dengan situasi dan tantangan yang dihadapi. Pemimpin dapat menjadi penggerak perubahan, namun juga berpotensi menjadi penghambat apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang otoriter dan tidak efektif. Data survei global menunjukkan bahwa ketidaksesuaian dengan gaya kepemimpinan menjadi salah satu faktor utama rendahnya kinerja dan lemahnya komitmen dalam organisasi.
Dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah, Direktur Jenderal Bimas Hindu juga mengingatkan adanya ancaman keusangan, baik dari sisi teknologi, cara pandang, maupun metode kerja. Oleh karena itu, inovasi menjadi kunci agar organisasi dan para pemimpinnya tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan masa depan.
Dirjen Bimas Hindu berharap para pejabat yang baru dilantik mampu mengelola diri dengan baik sebagai pemimpin pembelajar, adaptif, dan inovatif, serta menjalankan amanah jabatan dengan integritas dan tanggung jawab demi kemajuan IAHN Mpu Kuturan Singaraja dan penguatan pendidikan Hindu di Indonesia.