Jakarta (BIMAS HINDU) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu kembali melaksanakan kegiatan Buda Sanggrahana sebagai forum koordinasi rutin antara pusat, daerah, serta Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Negeri (PTKHN) dan Swasta (PTKHS). Kegiatan yang berlangsung secara daring ini menjadi ruang konsolidasi penting dalam memantapkan arah program Ditjen Bimas Hindu menjelang tahun 2026, Rabu (03/12/2025).
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Dr. Ida Made Pidada yang menyampaikan pentingnya sinkronisasi program pusat dan daerah, terutama dalam penyelenggaraan layanan pendidikan dan pembinaan umat. Sekretaris Ditjen juga meminta seluruh Pembimas untuk segera mendata umat Hindu yang terdampak bencana agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Pada kesempatan ini, Direktur Pendidikan Hindu Prof. I Ketut Sudarsana memaparkan arah kebijakan dan program Pendidikan Hindu tahun 2026. Dalam paparannya, Direktur Pendidikan menyampaikan perkembangan pendidikan Hindu dari tingkat Widyalaya hingga Perguruan Tinggi. Berbagai data dan capaian disampaikan, mulai dari kondisi akreditasi, peningkatan mutu satuan pendidikan, bantuan sarana prasarana, hingga peningkatan kompetensi guru dan dosen.
Direktur Pendidikan Hindu juga menjelaskan sejumlah program prioritas tahun 2026, antara lain penggandaan buku siswa dan buku guru; penyusunan bahan ajar digital; bantuan sarana pembelajaran dan laboratorium keagamaan; pembinaan PAUD Holistik Integratif; peningkatan kualitas kurikulum Widyalaya dan Pasraman; pelaksanaan CORAST tingkat nasional; serta penguatan tata kelola dan akreditasi satuan pendidikan Hindu. Di bidang pendidikan tinggi, Ditjen Bimas Hindu menyiapkan program beasiswa S3, penguatan laboratorium, peningkatan sistem penjaminan mutu, kompetisi KORSASE, penelitian berbasis output, hingga fasilitasi akreditasi PTKH.

Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija dalam arahannya menegaskan pentingnya implementasi Ekoteologi dan Kurikulum Cinta, sejalan dengan instruksi Sekretaris Jenderal Kementerian Agama agar seluruh unit eselon I menyiapkan langkah implementatif pada tahun 2025. Dirjen menyampaikan bahwa konsep ekoteologi sejatinya telah lama hidup dalam praktik keagamaan Hindu. “Dalam setiap dharma wacana, tema ekoteologi terus kita suarakan. Umat Hindu sesungguhnya telah menjalankan ajaran ini melalui Puspam, Palam, Patram, Toyam merupakan elemen bunga, buah, daun, dan air yang mengajarkan kita untuk menjaga empat unsur kehidupan,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Ditjen Bimas Hindu akan menyusun konsepsi dan rencana implementasi ekoteologi, serta merencanakan pertemuan besar di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Gunung Salak, bersama umat Hindu Jabodetabek dan menghadirkan Menteri Agama untuk memberikan arahan. Dirjen Bimas Hindu juga meminta seluruh Pembimas dan satuan pendidikan agar mendokumentasikan praktik baik ekoteologi di daerah masing-masing, mulai dari kebersihan pura, penanaman pohon, hingga kegiatan pelestarian lingkungan.

Selain itu, Dirjen mengumumkan rencana penyelenggaraan rangkaian kegiatan selama satu bulan dalam menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 (2026), yang akan dimulai pada 15 Februari.
Menutup arahannya, Prof. I Nengah Duija berharap Buda Sanggrahana menjadi wadah komunikasi aktif antara pusat, daerah, serta PTKH. “Kami berharap forum ini dimanfaatkan sepenuhnya sebagai ruang berbagi persoalan, gagasan, dan solusi. Dengan demikian, seluruh program Ditjen Bimas Hindu dapat berjalan lebih terarah dan berdampak bagi umat,” ujarnya.