Mahasabha III ICHI Dorong Peran Cendekiawan Hindu dalam Merespons Tantangan Zaman

Mahasabha III ICHI

Jakarta (BIMAS HINDU) — Mahasabha III Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran pemikiran dan kontribusi intelektual umat Hindu dalam menjawab dinamika zaman serta memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara. Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Ketua Umum ICHI, perwakilan Ketua Umum PHDI Pusat, serta pimpinan berbagai organisasi kemasyarakatan Hindu seperti PSN, WHDI, Prajaniti, KMHDI, Peradah, BDDN, GDHDI, Ketua P3I, Ketua Tim Pemanfaat Candi Prambanan, Ketua STAH Dharma Nusantara, serta para peserta Mahasabha III ICHI dari berbagai daerah, Minggu (08/03/2026).

Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan harapan agar Mahasabha ini mampu melahirkan kepengurusan yang harmonis dan mampu menjawab tantangan zaman, khususnya dalam membangun kehidupan umat Hindu yang semakin dinamis.

“Harapan saya Mahasabha ini mampu menghasilkan pengurus yang harmoni dan mampu menerima tantangan zaman, khususnya untuk umat Hindu. Semoga perputaran kepengurusan ini dapat menghasilkan yang terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum ICHI menegaskan bahwa Mahasabha III menjadi momentum untuk menjadikan organisasi semakin adaptif dan berenergi dalam memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

“Kami mengharapkan Mahasabha ketiga ini menjadikan ICHI ke depan semakin lincah dan energik dalam memberikan kontribusi pada kehidupan berbangsa dan bernegara. ICHI adalah perkumpulan para cendekiawan dengan beragam disiplin ilmu yang dapat memberikan pemikiran konstruktif bagi kemajuan umat dan bangsa,” ungkapnya.

Dalam sambutan Ketua Umum PHDI Pusat yang diwakili oleh Sekretaris Umum PHDI Pusat, disampaikan bahwa keberadaan ICHI memiliki peran strategis dalam menghadirkan kajian-kajian keilmuan yang berani dan mendalam.

“Ichi sangat strategis perannya. Kami pernah membuat kajian-kajian yang memiliki penting, namun kita tetap tegar karena itulah peran seorang cendekiawan. Dalam kecendekiawanan itu terdapat peradaban yang luar biasa,” tuturnya.

Direktur Jenderal Bimas Hindu dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan ICHI merupakan ruang intelektual yang sangat penting dalam melahirkan pemikiran dan riset yang dapat menjadi dasar kebijakan, termasuk bagi Ditjen Bimas Hindu.

Menurutnya, tidak semua sarjana adalah cendekiawan. Seorang cendekiawan memiliki tiga karakter utama, yakni intelektualitas yang tangguh, pengetahuan yang luas, serta kemampuan analisis yang kuat dan kritis.

“ICHI memiliki potensi besar karena para anggotanya memiliki kemampuan intelektual, keluasan pengetahuan, serta analisis yang kritis. Inilah yang menjadikan ICHI selalu bergerak dan berjuang tanpa batas dalam ruang ilmu pengetahuan,” ujar Prof. I Nengah Duija.

Beliau menambahkan bahwa dalam dunia keilmuan, perubahan paradigma merupakan sesuatu yang tidak terelakkan. Oleh karena itu, organisasi cendekiawan seperti ICHI diharapkan mampu terus melahirkan gagasan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dirjen Bimas Hindu juga berharap berbagai kebijakan organisasi, termasuk kebijakan di lingkungan Ditjen Bimas Hindu, dapat lahir dari hasil riset dan kajian yang dilakukan oleh para cendekiawan di ICHI.

Lebih lanjut, Prof. I Nengah Duija menekankan pentingnya kolaborasi antara nilai-nilai keagamaan dan pendekatan ilmiah. Menurutnya, Hindu memiliki kekuatan besar karena tumbuh dalam ruang budaya dan mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan zaman.

“Hindu tidak jatuh di ruang hampa, tetapi hidup dalam ruang budaya. Karena itu Hindu mampu beradaptasi di mana pun berada dan tetap hidup sepanjang zaman,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu juga menyampaikan perkembangan pendidikan Hindu, termasuk upaya penguatan lembaga pendidikan Widyalaya yang direncanakan untuk dinegerikan pada tahun 2026.

Saat ini, tercatat telah ada sekitar 159 Widyalaya yang sebagian besar masih berstatus swasta. Beliau menekankan pentingnya memperkuat pendidikan dasar keagamaan sebagai fondasi bagi pengembangan pendidikan tinggi Hindu ke depan.

“Kita harus menyiapkan generasi muda mulai sekarang. Jika pendidikan dasar tidak kita perkuat, maka arah pendidikan tinggi kita ke depan akan sulit kita bangun,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Dirjen Bimas Hindu menyampaikan harapan agar ICHI dapat terus mengembangkan kajian-kajian berbasis keilmuan Hindu yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu melahirkan sejarah baru dalam pengembangan pemikiran Hindu di Indonesia.

Mahasabha III ICHI kemudian secara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Bimas Hindu sebagai tanda dimulainya rangkaian sidang organisasi yang akan menentukan arah kepengurusan dan program kerja ICHI ke depan.


Berita Pusat LAINNYA