Melalui Dharmagita, Umat Hindu Mimika Didorong Perkuat Literasi, Harmoni, dan Moderasi Beragama

Dirjen Bimas Hindu membuka secara resmi Pelatihan Dharmagita: Media Literasi, Harmonisasi, dan Moderasi Beragama Tahun 2025

Mimika (Humas Hindu) Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si. menghadiri dan membuka secara resmi Pelatihan Dharmagita: Media Literasi, Harmonisasi, dan Moderasi Beragama Tahun 2025 yang dilaksanakan di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah (31/10/25).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Mimika Bapak Johannes Rettob, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Papua atau yang mewakili, unsur FORKOPIMDA, Kepala Badan Kesbangpol, Kadis Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, para Ketua PHDI Provinsi Papua Tengah, Papua, dan Kabupaten Mimika, Ketua FKUB, tokoh agama, serta Kepala Distrik Wania, Kepala Kampung Wonosari Jaya, dan umat Hindu serta peserta pelatihan Dharmagita.

Dalam arahannya, Prof. Duija menyampaikan bahwa Dharmagita tidak hanya merupakan seni suara suci umat Hindu, tetapi juga media literasi keagamaan dan spiritual yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran (sat), kesadaran (chit), dan kebahagiaan (ananda). Melalui Dharmagita, umat Hindu belajar memahami ajaran dharma dengan rasa dan bhakti, serta menumbuhkan kesadaran estetis yang mendidik dan menyejukkan.

“Dharmagita adalah seni spiritual yang menyatukan keindahan dan nilai-nilai Weda. Melalui kidung dan sloka, umat belajar dharma dengan rasa dan kesadaran bhakti. Inilah bentuk literasi keagamaan yang estetis, sekaligus sarana memperkuat moderasi dan harmoni dalam kehidupan beragama,” ujar Prof. Duija

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Duija juga menyampaikan pesan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, bahwa moderasi beragama harus menjadi pedoman dalam setiap aktivitas keagamaan dan kebangsaan.

“Bapak Menteri Agama selalu berpesan bahwa yang berbeda jangan pernah disamakan, dan yang sama jangan pernah dibeda-bedakan. Pesan ini menjadi dasar dalam membangun kerukunan umat beragama. Di tengah keberagaman seperti di tanah Papua ini, pesan tersebut menjadi sangat relevan untuk kita hayati dan amalkan,” ujar Prof. Duija disambut tepuk tangan para peserta.

Lebih lanjut, Prof. Duija menjelaskan mengenai “Estetika Dharmagita dalam Bingkai Asta Protas”, yang memaknai Dharmagita sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai prioritas pembangunan Kementerian Agama 2025–2029, antara lain:

  • Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan, di mana Dharmagita menanamkan kasih dan harmoni antarumat;
  • Ekoteologi, yang mengajarkan kesucian alam dan keseimbangan hidup;
  • Layanan Keagamaan Berdampak, melalui pelayanan yang membahagiakan umat;
  • Pendidikan Unggul dan Ramah, dengan Dharmagita sebagai metode pembelajaran karakter;
  • Pemberdayaan Ekonomi Umat, lewat pengembangan industri kreatif berbasis budaya; dan
  • Digitalisasi Tata Kelola, dengan mendorong pengembangan konten Dharmagita digital dan edukatif.

Dalam perspektif estetika Hindu, Prof. Duija menekankan lima unsur keindahan, yakni wirama (irama), wiraga (gerak), wirasa (rasa), wicara (suara), dan wibawa (taksu), yang seluruhnya berlandaskan pada satyam, siwam, sundaram (kebenaran, kesucian, dan keindahan). Melalui keselarasan kelima unsur ini, Dharmagita menjadi wahana pembentukan karakter umat yang penuh cinta kasih, berpengetahuan, dan berbudaya luhur.

Selain sebagai sarana pembelajaran, Dharmagita juga berfungsi memperkuat literasi spiritual, literasi budaya, dan literasi digital. Umat Hindu diajak untuk terus melestarikan bahasa dan tradisi Nusantara, memahami ajaran suci dengan rasa dan seni, serta menciptakan konten digital yang positif dan inspiratif.

“Keindahan dalam Dharmagita bukan sekadar suara yang merdu, tetapi pancaran dharma yang hidup di dalam hati. Melalui Dharmagita, kita menanamkan nilai kebajikan, menguatkan harmoni sosial, dan membangun bangsa yang moderat serta berkeadaban,” tambah Prof. Duija.

Bupati Mimika Johannes Rettob menyampaikan apresiasi kepada Ditjen Bimas Hindu yang telah hadir dan memberikan perhatian besar terhadap pembinaan umat Hindu di Mimika. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang pembinaan karakter dan harmoni lintas agama di Papua Tengah.

Dalam sambutannya, Bapak Johannes menyampaikan pesan kebersamaan dan toleransi kepada seluruh peserta. Ia mengajak semua pihak untuk memaknai Kabupaten Mimika sebagai “rumah bersama” yang harus dijaga oleh semua warganya tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, maupun budaya.

“Bagi kita semua yang datang di sini dan tinggal di rumah ini, mari kita jaga rumah kita dengan baik. Pemerintah harus betul-betul berusaha menjaga orang yang tinggal di dalam rumah ini, tidak boleh ada yang sakit, tidak boleh ada yang kelaparan, harus cerdas, harus aman, punya iman yang kuat, dan saling menyayangi,” ujarnya

Ia menambahkan bahwa hingga saat ini pemerintah daerah terus berupaya memperkuat persaudaraan lintas agama dan budaya di Kabupaten Mimika.

“Kami hidup di sini sangat heterogen, ada berbagai agama, suku, budaya dan bahasa. Karena itu, bagaimana kita hidup di Mimika ini, harus sama-sama bisa hidup berdampingan, saling berangkulan dan tidak membiarkan perbedaan menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.

Pelatihan Dharmagita ini menjadi wujud nyata sinergi antara Kementerian Agama, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam meneguhkan moderasi beragama, memperkaya literasi budaya Hindu, serta mengembangkan potensi seni dan kreativitas umat sebagai bagian dari pembangunan bangsa yang berbhineka tunggal ika.


Berita Pusat LAINNYA