Merajut Harmoni di Hari Lahir Pancasila: Dirjen Bimas Hindu dan Kepala BMBPSDM Kemenag Berbagi Kehangatan di BDK Semarang

Dirjen Bimas Hindu bersama Kepala BMBPSDM menyapa langsung para pegawai untuk memberikan arahan dan motivasi.

Semarang (Bimas Hindu)– Suasana pagi di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang terasa begitu khidmat sekaligus hangat. Pasca menghadiri perayaan Dharmasantih Waisak Nasional di Candi Borobudur, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Bimas Hindu) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., menyempatkan diri untuk melebur bersama jajaran ASN dan pramubakti dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila.

Upacara yang digelar di lapangan BDK Semarang ini menjadi potret nyata dari nilai inklusivitas Pancasila itu sendiri. Tak hanya diikuti oleh para widyaiswara dan staf administrasi, upacara ini juga diikuti dengan penuh rasa khidmat oleh seluruh elemen pendukung instansi, mulai dari petugas keamanan (security) hingga petugas kebersihan (cleaning service). Mereka berdiri beriringan di barisan yang sama, membuktikan bahwa Pancasila adalah milik semua tanpa ada sekat pembatas.

Bertindak sebagai Pembina Upacara, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T. Dalam amanatnya, sosok yang akrab disapa Kang Dhani ini membacakan pidato resmi dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Pesan yang disampaikan mengalun begitu mendalam, menyentuh sanubari setiap peserta upacara tentang pentingnya keberpihakan kebijakan publik kepada mereka yang kerap tak terdengar suaranya:

"Kepada para Menteri dan Kepala Daerah, saya titipkan Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita."

Pesan humanis ini menjadi pengingat kuat bagi seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Kemenag untuk senantiasa menghadirkan pelayanan yang adil, setara, dan merangkul semua golongan tanpa terkecuali.

Kehangatan upacara berlanjut sesaat setelah barisan dibubarkan. Dalam suasana kekeluargaan yang santai namun sarat makna, Dirjen Bimas Hindu bersama Kepala BMBPSDM menyapa langsung para pegawai untuk memberikan arahan dan motivasi.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu mengupas akar sejarah Pancasila yang begitu kokoh dan luhur. Prof. Duija mengingatkan bahwa falsafah hidup damai dalam perbedaan bukanlah hal baru bagi bangsa ini, melainkan warisan peradaban nusantara yang telah teruji melintasi zaman.

"Pancasila sudah tersurat sejak abad ke-13, pada tulisan Negarakertagama. Sejak saat itu, para leluhur kita sudah memahami bahwa kita memiliki falsafah tentang bagaimana cara hidup bersama dalam sebuah negara besar yang penuh keberbedaan," tutur Dirjen Bimas Hindu.

Prof. Duija menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia bertahan sebagai negara bangsa yang besar hingga hari ini adalah berkat kesetiaan kita merawat nilai-nilai tersebut.

"Alhamdulillah, astungkara, negara yang begitu besar ini dikelola dengan baik berdasarkan falsafah Pancasila, maka Indonesia akan tetap jaya. Mudah-mudahan kita selalu bisa bekerja tulus untuk negara, bekerja untuk agama, dan juga bekerja untuk masyarakat serta keluarga," sambungnya.

Kehadiran para tokoh Kemenag RI di BDK Semarang pada Hari Lahir Pancasila ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial belaka. Ia adalah manifestasi nyata dari Pancasila yang hidup dan dipraktikkan: sebuah kepemimpinan yang humanis, menghargai sejarah, berpihak pada keadilan sosial, dan senantiasa merangkul kebersamaan di atas segala perbedaan.


Berita Pusat LAINNYA