Denpasar (Bimas Hindu) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Madyama Widyalaya dan Utama Widyalaya Provinsi Bali menyelenggarakan Workshop Penyusunan Panduan Kurikulum Berbasis Cinta serta Modul Panduan Kegiatan Keagamaan Hindu di Sekolah Rakyat. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai 26 hingga 28 November 2025, dan diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari guru serta pengelola pendidikan dari berbagai wilayah di Bali, Jumat (28/11/2025).
Workshop ini digelar untuk menyusun panduan kurikulum pendamping yang menguatkan nilai cinta kasih, karakter, dan spiritualitas dalam pembelajaran Widyalaya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menghadirkan modul kegiatan keagamaan Hindu yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah rakyat, sehingga pelaksanaan pendidikan agama semakin terarah dan efektif.
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Pendidikan Hindu, Prof. I Ketut Sudarsana. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penyusunan kurikulum berbasis cinta merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang. Ia menyampaikan bahwa kurikulum cinta tidak dimaksudkan untuk menggantikan kurikulum utama, melainkan menjadi kurikulum pendamping yang terintegrasi untuk memperkuat pendidikan karakter.
Menurutnya, hadirnya kurikulum berbasis cinta menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan visi besar pendidikan nasional menuju Indonesia Emas 2045 berjalan sesuai arah. Integrasi kurikulum tersebut diharapkan mampu memberikan rambu-rambu bagi guru dan sekolah agar proses pembelajaran tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga penguatan moral dan budi pekerti peserta didik.
Ketua panitia sekaligus Ketua MGMP, I Wayan Mertayasa, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif bagi pengembangan pendidikan Widyalaya. Ia berharap ke depan para guru dan pengelola sekolah dapat terus dilibatkan dalam penyusunan kebijakan pendidikan sehingga hasilnya semakin tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Proses penyusunan panduan dilakukan dengan pendampingan para praktisi dan ahli di bidang pendidikan demi memastikan setiap materi dan konsep yang dirumuskan benar-benar relevan. Melalui pendampingan tersebut, panitia berharap hasil akhir workshop berupa panduan kurikulum dan modul kegiatan keagamaan Hindu dapat digunakan secara efektif oleh para guru.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Bali dalam memperkuat pendidikan berbasis nilai dan spiritualitas. Dengan lahirnya panduan yang lebih komprehensif, pendidikan Widyalaya diharapkan semakin siap membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, beretika, dan berlandaskan cinta kasih.