Paradoks Hari Saraswati : Mengapa Ilmu Pengetahuan Justru Membutuhkan Jeda?

Paradoks Hari Saraswati : Mengapa Ilmu Pengetahuan Justru Membutuhkan Jeda?

Setiap hari kita berhadapan dengan begitu banyak informasi. Melalui telepon genggam, kita dapat membaca berita, mencari pengetahuan, mengikuti berbagai pendapat, bahkan mengetahui peristiwa yang terjadi di tempat yang jauh. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah. Namun, di tengah kemudahan itu, ada satu hal yang sering kita lupakan, yaitu waktu untuk memahami apa yang sudah kita baca.

Kita mungkin semakin banyak mengetahui sesuatu, tetapi apakah kita juga semakin bijaksana? Kita bisa membaca berbagai berita, tetapi belum tentu mampu membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Kita bisa menguasai banyak pengetahuan, tetapi belum tentu mampu menggunakannya dengan baik.

Pertanyaan ini menarik untuk direnungkan ketika umat Hindu merayakan Hari Raya Saraswati. Hari suci yang jatuh pada Saniscara Umanis wuku Watugunung ini merupakan hari untuk menghormati ilmu pengetahuan. Buku, lontar, dan berbagai sarana belajar mendapat tempat khusus dalam persembahyangan.

Namun, ada satu tradisi yang menarik untuk diperhatikan. Dalam perayaan Saraswati dikenal Brata Saraswati, yaitu laku pengendalian diri yang dalam pelaksanaannya berkaitan dengan pantangan membaca dan menulis pada waktu tertentu. Sekilas, hal ini tampak seperti sebuah paradoks. Pada hari untuk menghormati ilmu pengetahuan, mengapa justru ada ajakan untuk berhenti sejenak dari kegiatan membaca dan menulis?

Barangkali di sinilah kita perlu memahami makna yang lebih dalam. Hari Saraswati bukan mengajarkan manusia untuk menjauhi ilmu pengetahuan. Sebaliknya, hari suci ini mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya perlu dicari dan dibaca, tetapi juga perlu dihormati, dipahami, dan diamalkan.

Menghormati ilmu bukan sekadar membaca

Hari Saraswati jatuh pada Saniscara Umanis wuku Watugunung, yaitu wuku terakhir dalam siklus Pawukon yang terdiri atas 30 wuku. Pada hari ini, umat Hindu memuja Sang Hyang Aji Saraswati sebagai manifestasi Tuhan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Buku dan lontar ditempatkan sebagai sarana suci yang menjadi bagian dari penghormatan terhadap ilmu.

Pembahasan mengenai Brata Saraswati, salah satu rujukan yang sering disebut adalah Lontar Sundarigama. Dalam tradisi ini dikenal ungkapan tan wenang angreka aksara, tan wenang akekidung yang berkaitan dengan pantangan menulis dan melantunkan kidung pada saat tertentu dalam pelaksanaan pemujaan. Penjelasan dan praktik Brata Saraswati dapat berbeda dalam berbagai penuturan. Ada yang menjalankannya secara penuh selama 24 jam, sementara penjelasan lainnya mengaitkan pantangan dengan kegiatan tertentu menjelang atau selama persembahyangan. Karena itu, tradisi ini tidak tepat jika langsung dimaknai sebagai kewajiban bagi seluruh umat untuk tidak membaca semua jenis buku sepanjang hari.

Pantangan tersebut dapat direnungkan sebagai bentuk pengendalian diri dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Dengan mengambil jeda dari kegiatan membaca dan menulis, manusia diberi kesempatan untuk memuliakan sarana ilmu sekaligus melihat kembali bagaimana pengetahuan selama ini digunakan.

Makna ini terasa dekat dengan kehidupan kita sekarang. Kita sering membaca banyak hal, tetapi belum tentu benar-benar memahaminya. Kita cepat menerima informasi, tetapi kadang lambat memeriksa kebenarannya. Bahkan, tidak jarang kita membagikan berita hanya karena banyak orang membicarakannya.

Hari Saraswati mengingatkan bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti pada banyaknya informasi yang kita miliki. Ilmu perlu membentuk cara berpikir, memperbaiki sikap, dan menuntun kita dalam mengambil keputusan. Menghormati ilmu berarti juga bertanggung jawab atas cara kita menggunakannya.

Jeda dalam perayaan Saraswati dapat kita maknai sebagai kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah selama ini kita belajar untuk menjadi lebih baik, atau sekadar ingin terlihat lebih tahu daripada orang lain? Apakah pengetahuan yang kita miliki sudah membuat kita lebih bijaksana dalam bersikap?

Belajar dari kisah Watugunung

Hari Saraswati berada pada akhir siklus Pawukon, tepatnya pada wuku Watugunung. Dalam tradisi Bali, Watugunung juga dikenal melalui sebuah kisah yang memiliki beberapa versi penuturan.

Salah satu kisah menggambarkan Watugunung sebagai sosok raja yang memiliki kekuatan dan kesaktian besar. Kisah ini dapat menjadi bahan renungan bahwa kekuatan dan kemampuan tidak selalu berjalan bersama kebijaksanaan. Seseorang bisa memiliki banyak kelebihan, tetapi tetap membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan diri dan mempertimbangkan setiap tindakan.

Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Seseorang mungkin memiliki pendidikan tinggi, jabatan, kemampuan, dan pengetahuan yang luas. Akan tetapi, semua itu belum tentu membuatnya bijaksana.

Kita dapat melihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang pandai berbicara, tetapi perkataannya menyakiti orang lain. Ada orang yang memiliki pengetahuan tinggi, tetapi menggunakan kepandaiannya untuk kepentingan pribadi. Ada pula orang yang cepat menyebarkan berita tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya.

Artinya, kepandaian saja tidak cukup. Manusia membutuhkan kemampuan untuk mempertimbangkan dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam ajaran Hindu, kemampuan ini dikenal dengan istilah wiweka.

Simbol angsa atau hamsa yang sering dikaitkan dengan Dewi Saraswati juga dapat menjadi bahan perenungan tentang pentingnya wiweka. Dalam tradisi simbolik Hindu, angsa digambarkan memiliki kemampuan memisahkan susu dari air. Gambaran ini bukan penjelasan ilmiah tentang kemampuan angsa, melainkan perlambang kebijaksanaan dan kemampuan memilah.

Maknanya sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Kita perlu mampu membedakan informasi yang benar dari kabar bohong, pendapat dari fakta, serta sesuatu yang bermanfaat dari sesuatu yang dapat merugikan. Tidak semua yang kita baca harus dipercaya. Tidak semua yang ramai dibicarakan harus diikuti.

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, kemampuan seperti ini semakin penting. Kita tidak cukup hanya pandai mencari informasi. Kita juga harus mampu memeriksa, memahami, dan mempertimbangkan akibat sebelum menyebarkannya. Itulah salah satu bentuk wiweka dalam kehidupan sehari-hari.

Banyu Pinaruh dan makna penyucian diri

Rangkaian Hari Saraswati berlanjut pada keesokan harinya melalui perayaan Banyu Pinaruh, yang jatuh pada Redite Paing wuku Sinta. Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, umat melaksanakan kegiatan penyucian diri, antara lain dengan mandi atau melukat di laut, mata air, dan tempat-tempat yang dianggap suci.

Air menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Selain membersihkan tubuh, kegiatan tersebut juga dapat menjadi pengingat untuk membersihkan pikiran dan hati. Setelah menghormati ilmu pada Hari Saraswati, manusia diajak kembali melihat ke dalam dirinya sendiri.

Kata banyu berarti air. Sementara itu, dalam salah satu penafsiran tradisional, istilah pinaruh dikaitkan dengan pengetahuan atau kesadaran. Pemaknaan ini dapat dipahami sebagai bagian dari penafsiran tradisi, bukan satu-satunya arti bahasa yang berlaku mutlak.

Makna penyucian diri dalam Banyu Pinaruh juga dapat dihubungkan dengan ajaran dalam Manawa Dharmasastra V.109. Sloka tersebut berbunyi sebagai berikut.

          Adbhir gātrāṇi śuddhyanti

          Manaḥ satyena śuddhyati

          Vidyātapobhyāṃ bhūtātmā

          Buddhir jñānena śuddhyati.

Sloka ini menjelaskan bahwa anggota tubuh disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, diri atau jiwa disucikan melalui pengetahuan dan tapa, sedangkan kecerdasan disucikan dengan pengetahuan.

Ajaran ini mengingatkan bahwa penyucian diri tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah. Air memang dapat membersihkan tubuh, tetapi pikiran juga membutuhkan kebenaran. Manusia perlu membekali dirinya dengan pengetahuan dan pengendalian diri agar mampu menjalani kehidupan dengan baik.

Jika dihubungkan dengan Banyu Pinaruh, pesan ini menjadi semakin bermakna. Kegiatan membersihkan diri melalui air dapat menjadi pengingat untuk menjaga kejernihan pikiran dan ketulusan hati. Setelah menghormati ilmu pengetahuan pada Hari Saraswati, kita diajak melihat kembali apakah ilmu yang dimiliki sudah membawa perubahan dalam kehidupan.

Pengetahuan tidak cukup hanya membuat seseorang menjadi pintar. Pengetahuan juga harus membantu manusia bersikap lebih jujur, mampu mengendalikan diri, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Apa gunanya mengetahui ajaran tentang kebaikan jika kita masih mudah menyakiti orang lain? Apa artinya memahami kebenaran jika kita masih menyebarkan berita yang belum jelas? Apa manfaat ilmu yang tinggi jika tidak membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar?

Karena itu, Banyu Pinaruh dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali hubungan antara pengetahuan dan perilaku. Ilmu yang kita pelajari hendaknya tidak hanya tersimpan dalam pikiran, tetapi juga terlihat dalam perkataan dan perbuatan.

Ilmu harus membawa perubahan

Hari Saraswati dan Banyu Pinaruh memiliki rangkaian makna yang saling berkaitan. Hari Saraswati mengajak kita menghormati ilmu pengetahuan, sedangkan Banyu Pinaruh mengingatkan pentingnya penyucian diri. Keduanya dapat menjadi pengingat bahwa belajar bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana menjadikan pengetahuan itu berguna dalam kehidupan.

Di tengah derasnya arus informasi, kita memang perlu terus belajar. Kita harus mengikuti perkembangan zaman dan tidak boleh berhenti mencari pengetahuan. Namun, kita juga perlu menyediakan waktu untuk berpikir, merenung, dan memeriksa kembali apa yang sudah kita ketahui.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan informasi, tetapi lupa memperbaiki diri. Jangan sampai semakin banyak ilmu yang kita miliki justru membuat kita merasa paling benar. Jangan pula sampai kepandaian digunakan untuk merendahkan orang lain atau membenarkan tindakan yang tidak baik.

Pada akhirnya, ukuran seseorang berilmu bukan hanya seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa tinggi pendidikan yang dimiliki, atau seberapa luas pengetahuan yang dikuasai. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengetahuan itu membentuk kepribadiannya. Apakah ia menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih bijaksana, dan lebih peduli terhadap sesama serta lingkungan?

Mungkin inilah salah satu pesan yang dapat kita renungkan dari Hari Saraswati. Ada saatnya kita membaca dan belajar, tetapi ada pula saatnya kita berhenti sejenak untuk memahami apa yang telah dipelajari. Jeda bukan berarti berhenti belajar. Jeda memberi kesempatan kepada pikiran untuk mencerna dan kepada hati untuk memahami.

Sebab, ilmu yang sesungguhnya bukan hanya ilmu yang membuat kita tahu banyak hal, melainkan ilmu yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat Hari Raya Saraswati dan Banyu Pinaruh. Semoga ilmu pengetahuan yang kita hormati senantiasa menuntun pikiran, perkataan, dan perbuatan menuju kehidupan yang lebih baik.


Opini LAINNYA